JAKARTA — Tim yang efektif tidak lahir hanya dari seperangkat aturan yang dirancang untuk mendisiplinkan anggotanya. Lebih dari itu, karakter dan sikap setiap individu menjadi fondasi utama dalam membentuk tim yang solid dan berdaya saing.
Hal itu disampaikan Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Jakarta, Dr. Johannes A. A. Rumesser, M.Psi, saat menjadi narasumber dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) LDII 2014, Rabu (14/5).
Menurut Johannes, tim efektif atau outstanding team setidaknya memiliki tiga unsur penting, yakni pembagian tugas yang jelas, dinamika tim yang sehat, serta individu yang memiliki keterampilan.
“Semua komponen ini saling berkaitan. Jika berjalan dengan baik, maka jiwa persekutuan dalam tim akan sehat,” ujar Johannes, yang juga Dekan Fakultas Humaniora Universitas Bina Nusantara.
Ia mengibaratkan tim seperti sebuah kesebelasan sepak bola. Setiap orang memiliki peran, komitmen, serta kesepakatan bersama untuk mencapai visi dan misi. Tanpa kejelasan peran dan arah, tim akan mudah goyah ketika menghadapi tantangan.
Setelah tim terbentuk secara solid, tahap berikutnya adalah membangun winning team. Menurut Johannes, tim pemenang ditandai dengan kejujuran, kejelasan sasaran, serta titik pencapaian yang terukur. Selain itu, proses pengambilan keputusan harus berlangsung efektif dengan pembagian tanggung jawab yang jelas dan terbuka untuk dievaluasi.
Sebaliknya, losing team memiliki karakter anggota yang cenderung menonjolkan diri sendiri dan lebih memilih kompromi ketimbang mencari solusi terbaik. Dalam kondisi tersebut, kerap muncul dua fenomena, yakni groupthink—munculnya kelompok kecil dominan dalam tim—serta social loafing, ketika individu tidak menjalankan peran secara optimal dan sekadar “menempel” dalam tim.
Johannes menjelaskan, setiap tim pada umumnya akan melewati empat fase perkembangan, yakni pembentukan, badai konflik, pembangunan kepercayaan, hingga akhirnya mencapai kesolidan. Tim yang baik, lanjut dia, tidak hanya menghasilkan kinerja luar biasa, tetapi juga memiliki proses interaksi yang produktif serta pengalaman kerja yang menyenangkan bagi para anggotanya.
Dalam konteks kualitas individu, Johannes menekankan pentingnya enam tabiat luhur, yakni jujur, amanah, bekerja keras, hemat, rukun, dan mampu bekerja sama dengan baik. Interaksi antarindividu harus dilandasi komunikasi terbuka, penghargaan terhadap perbedaan, serta kerja sama yang sehat. Organisasi yang kuat juga ditopang oleh sasaran kerja yang jelas, pembagian peran yang tegas, dan ruang kebebasan berpendapat.
Di ujung keseluruhan proses tersebut, peran pemimpin menjadi faktor penentu. Pemimpin, kata Johannes, harus berani mengambil tanggung jawab dan keputusan, serta mampu menjadi teladan.
“Jika pemimpin mampu memberikan contoh, bukan sekadar berbicara, maka kehormatan dari anggota adalah sebuah keniscayaan,” ujarnya.
Menurut dia, tim yang efektif juga ditandai dengan kemampuan anggota menemukan titik temu secara cepat serta memiliki komitmen untuk terus menjadi lebih baik dari hari ke hari.
“Jika Anda menginginkan tim yang efektif, maka kombinasi antara keefektifan kinerja tim dan kualitas sumber daya yang baik adalah sebuah keharusan,” kata Johannes menutup paparannya dalam Rapimnas LDII 2014 tersebut.












