JAMBI — Isu perceraian dan perselingkuhan kerap menjadi sumber ketakutan generasi muda dalam membangun rumah tangga. Untuk mengatasi hal itu Pimpinan Anak Cabang (PAC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Pasir Putih menggelar pengajian rutin kelas Pra-Nikah di Mushola Tawakkal, Pasir Putih, Jambi Selatan, Kamis (8/1). Kegiatan ini diikuti 26 peserta dari kalangan pemuda-pemudi.
Pengajian tersebut menghadirkan Ustaz Sopiyan Achrin Tirtana, S.Pd., sebagai pemateri utama. Sopiyan menekankan pentingnya pemahaman agama dalam menjaga keutuhan rumah tangga, khususnya terkait larangan perselingkuhan yang memiliki dasar kuat dalam hadis.
Menurutnya, perselingkuhan merupakan perbuatan yang sangat dibenci dalam ajaran Islam karena merusak tatanan keluarga dan berdampak luas. Salah satu dampak paling serius dari konflik rumah tangga hingga perceraian adalah gangguan kondisi mental anak.
“Karena itu, pemuda harus bijak dalam memilih pasangan. Carilah pasangan yang memiliki kecerdasan emosional dan kesamaan visi agar komunikasi dalam rumah tangga dapat terjalin dengan baik. Pernikahan adalah ibadah terpanjang, sehingga kesiapan mental dan spiritual menjadi kunci utama,” ujarnya.
Menanggapi maraknya isu keretakan rumah tangga yang viral di media sosial, Sopiyan juga membagikan sejumlah tips menjaga keharmonisan pasangan. Ia turut mengingatkan adanya godaan spiritual, seperti Jin Dasim, yang dalam keyakinan Islam dikenal sebagai pengganggu ketenteraman rumah tangga.
Kegiatan diikuti 26 peserta. Salah satunya Tri Winda Hidayati, yang menilai edukasi Pra-Nikah tersebut sangat relevan bagi generasi Z di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pernikahan dan perceraian.
“Materi yang disampaikan membuka perspektif baru bagi saya. Edukasi seperti ini penting untuk menumbuhkan kembali optimisme terhadap institusi pernikahan di Indonesia, apalagi ada laporan penurunan angka pernikahan hingga 35 persen dalam beberapa waktu terakhir,” katanya.
Melalui program tersebut, Pengurus PAC LDII Pasir Putih berharap kelas Pra-Nikah tidak hanya menjadi sarana menambah wawasan. Namun bisa juga menjadi bekal bagi pemuda-pemudi dalam mempersiapkan diri membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. (kim/sof/wid)












