MAGETAN — Media sosial yang kian terbuka membawa peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Untuk membentengi santri dari paparan paham radikal di ruang digital, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Magetan menggelar edukasi bijak bermedia sosial di Pondok Pesantren Baitul ‘Ulum Al-Islami, Dukuh Klaten, Desa Puntukdoro, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jumat (30/1/2026).
Kegiatan tersebut diikuti warga LDII dan para santri pondok pesantren dengan menghadirkan Endro Warsito, purnawirawan Polri yang tergabung dalam Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, sebagai narasumber. Edukasi ini bertujuan meningkatkan literasi digital serta membekali peserta agar mampu menyaring informasi di ruang digital secara kritis dan bertanggung jawab.
“Santri harus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan pesan damai dan persatuan. Jangan hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten positif yang bertanggung jawab,” ujar Endro Warsito dalam pemaparannya.
Endro menekankan pentingnya sikap cerdas, kritis, dan bijak dalam menggunakan media sosial. Menurut dia, media sosial kerap dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran paham radikalisme dan intoleransi melalui narasi provokatif, hoaks, serta ujaran kebencian.
Karena itu, santri dan warga LDII diharapkan mampu mengenali ciri-ciri konten bermuatan radikal dan tidak mudah terprovokasi oleh ajakan yang bertentangan dengan nilai kebangsaan maupun ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Melalui kegiatan tersebut, LDII Magetan menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya pencegahan radikalisme serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Penguatan literasi media dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun generasi santri yang berakhlak mulia, cinta tanah air, dan siap menghadapi tantangan era digital. (kim/sof/wid)












