Ketua DPW LDII Jawa Timur Moch Amrodji Konawi menekankan pentingnya ilmu pengetahuan yang seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus dibarengi dengan pembentukan moral dan akhlak yang baik. Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Bedah Buku dan Diskusi bertajuk “Sistem, Model dan Corak Pendidikan LDII Dalam Platform Profesional Religius Dari Sabang Sampai Merauke” di Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel, Surabaya, Minggu (10/5) pagi.
“Di LDII ada tiga fokus pendidikan, yakni pendidikan urusan dunia, pendidikan keagamaan, dan pendidikan karakter. Harapannya, semua itu bisa menciptakan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Moch Amrodji mengatakan tantangan zaman saat ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi dan persaingan global, tetapi juga persoalan krisis moral di kalangan generasi muda. Karena itu, pendidikan menurutnya harus mampu membentuk manusia yang utuh, baik dari sisi intelektual maupun karakter.
“Pendidikan harus mampu menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan, nilai agama, dan pembentukan karakter. Ketiganya tidak bisa dipisahkan jika ingin melahirkan generasi yang berkualitas,” ujarnya.
Amrodji juga memaparkan konsep pendidikan yang diterapkan LDII dibangun melalui tiga aspek utama, yakni pendidikan umum, pendidikan keagamaan, dan pendidikan karakter, “Ketiga unsur tersebut menjadi fondasi dalam menciptakan sumber daya manusia yang profesional sekaligus religius,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola pembinaan di lingkungan LDII dilakukan secara berjenjang mulai usia dini hingga lanjut usia. Program tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan pengajian berdasarkan kelompok umur, mulai pengajian anak-anak, remaja, usia pernikahan, hingga lansia.
“Budaya belajar harus terus hidup di setiap fase kehidupan. Pendidikan bukan hanya selesai di bangku sekolah, tetapi menjadi proses sepanjang hayat,” sahutnya.
Menurut Amrodji, keterlibatan akademisi dari luar organisasi menunjukkan bahwa LDII membuka ruang dialog dan evaluasi ilmiah untuk terus memperbaiki sistem pendidikan yang dijalankan, “Kami terbuka terhadap kritik dan masukan. Jika ada hal baik tentu akan kami lanjutkan, sedangkan kekurangan akan menjadi bahan evaluasi bersama,” jelasnya.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang akademik dan ormas Islam, diantaranya Penulis dan Cendekiawan Muda Nahdlatul Ulama (NU) Dr. Ahmad Ali MD., M.A., Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim sekaligus Staff Ahli Kemendikdasmen Prof. Dr. Biyanto, dan Ketua Lembaga Dakwah PBNU Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin, M.H.I. atau Gus Aab.
Selain narasumber utama, kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur, tokoh masyarakat dan agama, serta para praktisi pendidikan. Pada kesempatan itu hadir pula perwakilan dari Muda NU, PW Muhammadiyah Jatim, dan Ketua Lembaga Dakwah PBNU.
Dalam bedah buku dan diskusi tersebut, para narasumber dan peserta membahas secara mendalam tentang sistem, model, serta corak pendidikan LDII yang dikembangkan dalam platform profesional religius. Cakupan pembahasan tidak hanya terbatas pada Jawa Timur, tetapi hingga dari Sabang sampai Merauke, menegaskan komitmen LDII dalam membangun pendidikan nasional yang berbasis nilai-nilai religius dan profesional. (cak/yes/wid)












