SURABAYA — Bedah buku “Sistem, Model dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius dari Sabang sampai Merauke” digelar di Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (10/5). Pembahas buku dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas).
Salah satu pembahas, Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Timur sekaligus Staf Ahli Kemendikdasmen, Biyanto, menyambut positif terselenggaranya forum tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini penting karena mempertemukan berbagai elemen ormas dalam satu ruang dialog.
“Pertama, saya menyambut baik kegiatan bedah buku ini yang mempertemukan lintas ormas,” ujarnya.
Ia menilai, pertemuan yang intensif, baik formal maupun informal, dapat menjadi sarana efektif untuk mengurangi prasangka di tengah masyarakat.
“Harapannya ke depan lebih banyak pertemuan serupa sehingga bisa mengurangi prasangka atau hal-hal yang selama ini dirasa negatif di tengah masyarakat. Intinya, semakin sering bertemu maka persepsi negatif itu akan hilang,” katanya.
Lebih lanjut, Biyanto menilai kegiatan ini juga mencerminkan upaya LDII dalam membangun sikap yang lebih terbuka dan inklusif. Ia menekankan bahwa keterbukaan menjadi hal penting di tengah dinamika masyarakat saat ini.
Sementara itu, Ketua Lembaga Dakwah PBNU Abdullah Syamsul Arifin menilai buku yang dibedah memiliki dasar akademik yang kuat dan layak disebut sebagai karya ilmiah.
“Penulisnya punya otoritas dengan kajian dari berbagai perspektif, baik studi lapangan maupun referensi. Ini memadai dan bisa menjadi rujukan untuk memahami sistem pendidikan dan kaderisasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, penting bagi masyarakat untuk tidak menilai organisasi hanya dari perilaku sebagian anggotanya yang kerap memunculkan stigma negatif.
Menurut dia, hal tersebut juga terjadi pada Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, maupun LDII.
Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat pertemuan antarormas guna membangun saling mengenal (taaruf), memahami (tafahum), dan bekerja sama (taawun).
“Kalau sudah saling memahami, kerja sama akan terbangun, dan jika ada kekurangan bisa saling melengkapi,” katanya. (sof/wid)











