JAKARTA — Dinamika sidang Musyawarah Nasional (Munas) X Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) tidak hanya menjadi ruang evaluasi kepengurusan, tetapi juga sarana kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi.
Hal itu tercermin dari jalannya pembahasan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) DPP LDII masa bakti 2021–2026. Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso memutuskan untuk tidak maju kembali. Ia berharap kepada kader-kader yang dinilai siap melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi.
Ketua DPW LDII Jawa Timur H. Moch. Amrodji Konawi mengatakan, proses yang berlangsung dalam forum Munas menunjukkan bahwa mekanisme organisasi berjalan dengan baik, baik dalam mengevaluasi program lima tahunan maupun menyiapkan kesinambungan kepemimpinan.
Menurut dia, forum Munas tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertanggungjawaban kepengurusan, tetapi juga sebagai wahana untuk memastikan kaderisasi tetap berjalan.
“Forum Munas ini menunjukkan bahwa organisasi berjalan dengan baik. Ada evaluasi, ada musyawarah, dan ada proses kaderisasi yang disiapkan untuk keberlanjutan kepemimpinan ke depan,” ujar Amrodji, Rabu (8/4) di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta.
Ia menambahkan, kepengurusan DPP LDII selama masa bakti 2021–2026 telah menunjukkan berbagai capaian dan kontribusi bagi masyarakat. Berbagai program yang dijalankan, kata dia, tidak hanya memperkuat organisasi secara internal, tetapi juga memperluas pengabdian LDII kepada masyarakat melalui delapan klaster pengabdian LDII untuk bangsa.
“Selama masa kepengurusan ini, banyak hal yang telah dilakukan dan manfaatnya dirasakan masyarakat. Program-program LDII juga berjalan semakin terarah melalui delapan klaster pengabdian untuk bangsa,” katanya.
Dalam forum tersebut, kontingen LDII Jawa Timur menerima LPJ DPP LDII 2021–2026 tanpa syarat sebagai bentuk apresiasi atas kinerja kepengurusan selama lima tahun terakhir.
Namun, dinamika Munas tidak berhenti pada evaluasi program. Forum juga berkembang ke arah pembahasan keberlanjutan kepemimpinan organisasi.
Amrodji mengakui, secara batiniah dirinya bersama para Ketua DPD LDII se-Jawa Timur pada awalnya masih berharap KH Chriswanto Santoso bersedia melanjutkan kepemimpinan sebagai Ketua Umum DPP LDII untuk periode berikutnya.
Bagi jajaran pengurus LDII Jawa Timur, Chriswanto dinilai bukan hanya sosok pemimpin organisasi, tetapi juga figur pembina yang dekat dan banyak memberi arahan.
“Beliau bagi kami bukan sekadar ketua umum, tetapi juga sosok yang selama ini banyak membimbing. Karena itu, pada awalnya kami masih berharap beliau bersedia melanjutkan amanah,” kata Amrodji.
Namun, dalam penyampaian laporan pertanggungjawaban, Chriswanto menyatakan tidak berkenan dicalonkan kembali sebagai Ketua Umum DPP LDII dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan.
Bagi LDII Jawa Timur, keputusan tersebut justru memperlihatkan bahwa proses regenerasi di tubuh organisasi telah dipersiapkan dengan baik. Amrodji menilai, selama masa kepemimpinannya, Chriswanto telah menyiapkan kader-kader terbaik untuk melanjutkan estafet organisasi.
“Beliau telah menyiapkan kader-kader terbaik. Ini menunjukkan bahwa regenerasi di LDII berjalan dan organisasi ini disiapkan untuk terus berlanjut dengan kepemimpinan yang kuat,” ujarnya.
Dalam kerangka regenerasi itu, LDII Jawa Timur memandang penting hadirnya kader-kader yang siap melanjutkan kepemimpinan organisasi. Salah satu nama yang diusulkan dalam forum Munas adalah H. Dody Taufiq Wijaya.
Dody dinilai sebagai salah satu kader yang memiliki pengalaman panjang di tingkat nasional. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Sekretaris Umum DPP LDII.

Menurut Amrodji, pengalaman organisasi dan pemahaman Dody terhadap arah gerak LDII menjadi modal penting dalam melanjutkan berbagai program strategis yang telah dibangun pada periode sebelumnya.
“Kami memandang Pak Dody memiliki kapasitas, pengalaman, dan pemahaman yang baik terhadap kebutuhan organisasi ke depan,” kata Amrodji.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa LDII Jawa Timur tetap menyerahkan sepenuhnya hasil akhir kepada mekanisme persidangan Munas X LDII yang masih berlangsung hingga Kamis (9/4/2026).
“Pada akhirnya, forum Munaslah yang akan memutuskan. Kami menghormati seluruh proses yang berjalan sebagai bagian dari mekanisme organisasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, apa pun keputusan yang dihasilkan dalam sidang Munas, LDII Jawa Timur siap menerimanya sebagai keputusan terbaik demi keberlanjutan organisasi ke depan.
“Yang terpenting adalah keberlanjutan organisasi, soliditas kepengurusan, dan pengabdian LDII untuk umat, bangsa, dan negara,” katanya.
Amrodji berharap, kepemimpinan LDII ke depan tetap melanjutkan semangat pengabdian organisasi kepada masyarakat, sekaligus memperkuat kontribusi LDII dalam bidang kebangsaan, keagamaan, pendidikan, ekonomi syariah, ketahanan keluarga, serta pembangunan sumber daya manusia.
Munas X LDII sendiri menjadi forum tertinggi organisasi untuk mengevaluasi program kerja, menetapkan arah kebijakan lima tahun ke depan, sekaligus memilih kepengurusan baru DPP LDII untuk masa bakti 2026–2031. (sof/wid)












