SURABAYA — Maraknya hoaks dan disinformasi di ruang digital mendorong DPW LDII Jawa Timur memperkuat kapasitas jurnalis internal melalui Pelatihan Jurnalistik 2026 yang digelar di Surabaya, Sabtu (7/2).
Kegiatan tersebut dibuka dan dihadiri Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jawa Timur serta Ketua DPW LDII Jawa Timur beserta jajaran pengurus. Program ini dirancang untuk memperkuat literasi media dan kompetensi jurnalistik peserta.
Sebanyak 160 kader LDII dari berbagai daerah di Jawa Timur mengikuti kegiatan ini. Mereka dibekali pemahaman dasar jurnalistik serta keterampilan praktis dalam mengelola dan menyajikan informasi secara akurat di ruang digital.
Upaya pembekalan tersebut, menurut Wakil Ketua DPW LDII Jawa Timur, Agung Riyanto, merupakan bagian dari strategi jangka panjang organisasi dalam memperkuat literasi media di internal LDII. Ia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas jurnalistik tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses berkelanjutan yang melibatkan seluruh struktur organisasi.
“Kami menyadari tidak mungkin dalam waktu singkat seluruh warga LDII Jawa Timur memiliki tingkat literasi media yang sama. Namun, ini adalah komitmen kami agar penguatan literasi media terus dilakukan secara bertahap dan merata, khususnya dalam menyampaikan informasi yang tidak menyesatkan dan mampu menangkal disinformasi,” ujar Agung.
Ia menambahkan bahwa DPW LDII Jawa Timur mendorong setiap Dewan Pimpinan Daerah (DPD) untuk aktif memproduksi dan menyebarkan informasi yang telah diverifikasi secara rutin sebagai bagian dari penguatan literasi media di tingkat lokal.

Selain pemaparan materi, pelatihan ini juga membuka ruang diskusi bagi peserta untuk mengaitkan materi dengan tantangan literasi media di lapangan. Dalam sesi tersebut, peserta asal Surabaya, Berliana Shabita, menekankan pentingnya keberlanjutan pascapelatihan jurnalistik agar kegiatan ini mampu memberi dampak dalam menekan hoaks dan disinformasi.
“Pelatihan seperti ini penting karena kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga bagaimana menyikapi arus informasi di media sosial secara lebih kritis dan bertanggung jawab,” ujar Berliana. Menurut dia, penguatan literasi media perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kader tidak mudah terjebak pada informasi yang keliru.
Menanggapi hal tersebut, Agung menegaskan bahwa penguatan literasi media merupakan tanggung jawab bersama dan memerlukan konsistensi dalam pelaksanaannya. Menurut dia, keberlanjutan program menjadi kunci agar peningkatan kapasitas jurnalistik dapat berjalan efektif.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami teori jurnalistik, tetapi juga mampu menerapkan prinsip etika, verifikasi, dan tanggung jawab informasi dalam praktik sehari-hari. Dengan demikian, para peserta diharapkan berperan aktif dalam menjaga kualitas informasi di tengah masyarakat. (kim/sof/wid)












