BONTANG — DPD LDII Kota Bontang bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang menggelar sosialisasi dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi remaja. Kegiatan tersebut berlangsung di Kompleks Masjid Baitul Musthofa, Kelurahan Gunung Telihan, Bontang, Minggu (18/1).
Pelatihan digelar untuk membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan tindakan Bantuan Hidup Dasar dalam menghadapi kondisi gawat darurat di sekitarnya, seperti henti napas dan henti jantung. Hal ini penting dikenalkan sejak dini, terutama kepada remaja sebagai generasi penerus, agar mereka mampu bersikap sigap dan tepat saat memberikan pertolongan pertama.
Ketua DPD LDII Kota Bontang, H. Anton Kuswanto, menegaskan pentingnya kemampuan Bantuan Hidup Dasar agar bisa dimiliki setiap individu, termasuk generasi muda. Menurutnya, keterampilan ini bisa menjadi bekal awal untuk membantu sesama, baik dalam situasi bencana maupun kejadian darurat sehari-hari.
“Tujuannya agar remaja LDII punya wawasan dan keterampilan dasar untuk memberikan pertolongan pertama saat kondisi darurat yang mengancam keselamatan jiwa,” ujarnya.
Sementara itu Koordinator Tim Instruktur BPBD Kota Bontang, Syamsudin menilai, pelatihan yang digelar LDII tersebut menunjukkan kepedulian terhadap isu kebencanaan dan keselamatan masyarakat.
“Kami mengapresiasi LDII Kota Bontang yang aktif menggelar kegiatan ini. Pelatihan Bantuan Hidup Dasar diharapkan mampu menambah pengetahuan sekaligus menumbuhkan keberanian remaja untuk memberikan pertolongan, terutama dalam situasi bencana,” ujarnya.
Syamsudin menegaskan, dalam situasi darurat maupun bencana, pertolongan pertama bukan hanya menjadi tugas petugas, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menjadi agen kesiapsiagaan dan berperan aktif dalam upaya penyelamatan jiwa di lingkungan masing-masing.
Materi disampaikan langsung oleh tim instruktur BPBD Kota Bontang. Selain pemaparan teori, peserta juga diajak praktik Resusitasi Jantung Paru (RJP) menggunakan manekin, dengan pendampingan instruktur berpengalaman. Melalui metode ini, mayoritas peserta diharapkan mampu memahami dan mempraktikkan prosedur BHD sesuai dengan standar yang berlaku.












