LAMONGAN — Evaluasi pembelajaran menjadi bagian penting dalam menjaga mutu pendidikan di taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Lamongan, evaluasi tersebut dilakukan melalui Imtihan, yakni ujian yang diselenggarakan pada akhir semester untuk mengukur capaian belajar santri sekaligus mengevaluasi proses pembinaan yang telah berlangsung.
Salah satu pelaksanaan Imtihan digelar TPQ Baitul Firdaus Amanah Insani di Masjid Baitul Firdaus, Desa Kebalandono, Kecamatan Babat, pada 22–26 Juni 2026. Kegiatan itu diikuti santri dari berbagai jenjang, mulai pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga remaja setara sekolah menengah atas (SMA).
Ketua TPQ Baitul Firdaus Amanah Insani, Dani Irawan, mengatakan Imtihan merupakan bagian dari sistem evaluasi pembelajaran yang bertujuan mengukur perkembangan kemampuan santri sekaligus menjadi bahan penilaian terhadap efektivitas metode pembinaan selama satu semester.
“Ujian ini tidak hanya menilai kemampuan peserta, tetapi juga menjadi tolok ukur keberhasilan proses pembinaan yang telah dijalankan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, santri mengikuti serangkaian materi ujian yang meliputi kemampuan membaca dan menulis Al-Quran, hafalan, pemahaman dasar keislaman, praktik ibadah, serta penerapan 29 Karakter Luhur, yakni nilai-nilai pembinaan yang dikembangkan LDII, seperti kejujuran, amanah, disiplin, kerja sama, hingga tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Dani, hasil Imtihan tidak hanya digunakan untuk mengetahui capaian belajar setiap santri, tetapi juga menjadi dasar bagi para pengajar dalam memetakan kemampuan peserta didik. Pemetaan tersebut menjadi acuan untuk menyusun materi dan metode pembelajaran pada semester berikutnya agar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masing-masing santri.
“Selain menjadi tolok ukur kemajuan belajar, Imtihan merupakan bagian dari upaya pembinaan agar santri memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik serta membiasakan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Selain mengevaluasi penguasaan materi keagamaan, Imtihan juga memberikan gambaran mengenai perkembangan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebiasaan belajar santri selama mengikuti proses pembinaan. Aspek-aspek tersebut menjadi bagian dari evaluasi yang dilakukan pengajar pada setiap akhir semester.
Bagi Dani, Imtihan tidak diposisikan sebagai ujian yang berorientasi pada nilai semata. Evaluasi berkala tersebut menjadi instrumen untuk memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai target sekaligus menjadi dasar perbaikan kualitas pembinaan pada semester berikutnya, sehingga pendidikan yang diberikan dapat berlangsung secara terukur dan berkesinambungan. (kim/sof/wid)












