LAMONGAN — Lembaga Falakiyah DPW LDII Jawa Timur menyatakan hilal penentu awal 1 Ramadan 1447 Hijriah tidak terlihat dalam pengamatan di Markaz Pantai Tanjung Kodok, Lamongan, Selasa (16/2/2026) petang. Posisi hilal yang berada di bawah ufuk saat matahari terbenam menjadi faktor utama tidak teramatinya bulan sabit muda tersebut.
Ketua Lembaga Falakiyah DPW LDII Jawa Timur Fajar Sidiq Rofikoh mengatakan, hasil rukyat di lokasi telah dilaporkan kepada Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lamongan. Berdasarkan pengamatan dan perhitungan astronomi, hilal memang tidak memenuhi syarat untuk terlihat.
“Berdasarkan hasil pengamatan dan hisab, saat matahari terbenam posisi hilal sudah berada di bawah ufuk. Karena itu, hilal tidak mungkin terlihat,” ujar Fajar di Markaz Tanjung Kodok, Lamongan.
Ia menjelaskan, kondisi cuaca pada sore hari relatif cerah meski terdapat sedikit awan di sekitar azimut terbenamnya matahari dan hilal. Namun, faktor cuaca bukan penentu utama dalam hasil pengamatan kali ini.
“Secara hisab, hilal sudah berada di bawah ufuk sehingga secara teori tidak memungkinkan untuk dirukyat,” katanya.
Lembaga Falakiyah LDII Jawa Timur mengerahkan 30 tim rukyat yang tersebar di 29 titik pengamatan resmi Kemenag di seluruh wilayah Jawa Timur. Pengamatan dilakukan secara serentak guna mendukung proses penentuan awal Ramadan.
Hasil dari Markaz Tanjung Kodok, lanjut Fajar, akan diteruskan ke Kemenag RI sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H.
“Keputusan final tetap menunggu sidang isbat di Jakarta. Sidang isbat akan mempertimbangkan laporan dari seluruh titik pemantauan di Indonesia, termasuk dari wilayah paling barat seperti Banda Aceh,” ujarnya.
LDII, kata dia, akan mengikuti keputusan resmi pemerintah terkait penetapan awal Ramadan. “Kami dari LDII akan mengikuti apa pun keputusan pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama,” kata Fajar.
Sementara itu, Ketua Badan Hisab Rukyat (BHR) Lamongan H.M. Khoirul Anam menyampaikan, ijtimak atau konjungsi bulan terjadi pada Selasa (17/2/2026) pukul 19.00 WIB. Pada saat matahari terbenam, posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga belum memenuhi kriteria imkanur rukyat.
“Tinggi hilal saat ghurub tercatat minus sekitar satu derajat dengan elongasi kurang dari dua derajat. Secara astronomis, kondisi tersebut menunjukkan hilal belum mungkin dirukyat,” ujarnya di Lamongan.
Dengan kondisi tersebut, bulan Sya’ban 1447 H diperkirakan digenapkan atau diistikmalkan menjadi 30 hari. Jika demikian, 1 Ramadan 1447 H berpotensi jatuh pada Kamis Pahing, 19 Februari 2026.
Khoirul menegaskan, hasil tersebut merupakan kajian ilmiah berbasis hisab dan belum menjadi penetapan resmi. Umat Islam di Indonesia kini menunggu pengumuman pemerintah melalui sidang isbat untuk memastikan awal Ramadan 1447 Hijriah. (sof/wid).












