LAMONGAN — Perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat, memunculkan tantangan bagi generasi muda. Mulai dari pergaulan bebas, penyalahgunaan gawai, kecanduan media sosial dan gim daring, rendahnya literasi digital, hingga menurunnya etika serta adab dalam kehidupan sehari-hari.
Derasnya arus informasi yang tidak disaring, termasuk hoaks, konten negatif, dan budaya instan, turut memengaruhi pola pikir serta karakter remaja, sehingga berdampak pada menurunnya kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat belajar.
Merespons kondisi tersebut, Pengurus Pemuda LDII Lamongan menggelar pengajian turun ke bawah (turba) untuk membentuk generasi muda profesional sekaligus religius. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu, (28/12) di Masjid Baitul Firdaus Kebalandono, Babat. Pengajian diikuti sekitar 148 peserta dari berbagai PAC LDII se-Babat.
Pengajian tersebit mengusung tema “Meraih Sukses Pendidikan Agama, Sukses Pendidikan Sekolah, dan Sukses 29 Karakter Luhur”. Kegiatan itu bertujuan memperkuat pembinaan generasi muda LDII agar siap menghadapi tantangan zaman.
Pada sesi pertama, Ustaz M. Pahala Cahaya, menekankan pentingnya membumikan 29 karakter luhur dalam kehidupan sehari-hari dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis. Menurutnya, karakter seperti jujur, amanah, disiplin, dan hormat kepada orang tua bukan sekadar konsep, melainkan nilai yang harus tercermin dalam sikap sehari-hari.
“Jika generasi muda memegang nilai-nilai ini, maka profesionalitas akan berjalan seiring dengan religiusitas,” tuturnya.
Pada sesi berikutnya, Ustaz Nurul Firdaus, menjelaskan secara rinci tiga target pembinaan generasi muda LDII, yakni sukses pendidikan agama, sukses pendidikan sekolah, dan penguatan 29 karakter luhur. Ia menegaskan ketiga target tersebut harus berjalan seimbang agar generasi muda mampu beradaptasi di tengah perubahan zaman yang cepat.
“Pembinaan berkelanjutan menjadi kunci agar anak-anak kita tetap kokoh secara akhlak dan kompeten secara pendidikan,” ujarnya.
Turut hadir Ketua PC LDII Babat, M. Sumarlin Putra, yang menekankan pentingnya memanfaatkan masa libur sekolah untuk kegiatan pembinaan generasi muda. Menurutnya, pengajian turba menjadi sarana bagi para pemuda untuk tetap aktif secara positif sekaligus menanamkan nilai-nilai religius dan karakter luhur sejak dini.
“Melalui kegiatan ini, generasi muda bisa belajar menyeimbangkan pendidikan agama, pendidikan sekolah, dan pembentukan karakter. Semua itu penting agar mereka siap menghadapi tantangan di era modern,” ujarnya.
Ia menambahkan, remaja saat ini menghadapi berbagai dinamika, mulai dari pengaruh media sosial, budaya instan, hingga potensi salah pergaulan. Untuk itu, penguatan sisi agama menjadi salah satu kunci agar mereka memiliki pegangan nilai yang jelas dan mampu menjaga diri dari hal-hal negatif.
“Pembinaan yang berkelanjutan dan berbasis nilai-nilai agama membantu anak-anak muda mengembangkan disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi. Dengan begitu, mereka dapat tetap berperan secara positif di keluarga, sekolah, dan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pemuda LDII Babat, Arif Chusnian, mengungkapkan rasa syukur kepada peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. “Para pemuda sangat aktif, mereka mendengarkan dan mencatat. Harapannya, apa yang didapat hari ini bisa menjadi hikmah dan bekal untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dengan terselenggaranya pengajian turba ini, diharapkan generasi muda LDII di Babat semakin mantap membangun pribadi yang unggul dalam keilmuan, kuat dalam agama, dan berkarakter luhur. Pembinaan tersebut menjadi modal penting dalam menyiapkan generasi penerus yang mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus berkontribusi positif bagi masyarakat. (kim/sof/wid)












