SURABAYA — Salah satu kunci berdakwah adalah komunikatif dan tidak minder. Paparan ini disampaikan oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. saat mengisi acara Diklat Dakwah dan Fiqh di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu (17/12).
Menurut Ali Aziz yang juga menjadi Guru Besar UINSA ini, pendakwah tidak boleh minder. “Minder itu kafir,” ujar Ali Aziz. Kafir disini berarti tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah yaitu berupa pemahaman ilmu agama yang telah diperoleh seseorang. Ia mencontohkan aksi tidak minder kala dirinya mengimami shalat di Iran, daerah dimana anak-anak kecil di sana gemar membawa Alquran.
Ali Aziz menambahkan, dakwah yang baik itu harus ditulis lalu dibaca. Pria yang menjadi pengurus MUI Jawa Timur ini mengibaratkan seperti saat menjadi akan menjadi imam shalat. Sebelum berangkat mengimami shalat, surat yang akan dibaca saat shalat harus dipersiapkan. Ia juga menambahkan bahwa dakwah dengan membaca itu boleh asalkan cara membacanya yang harus pintar. Audiens lebih memilih ceramah yang membaca tapi benar daripada yang memakai ingatan tapi salah.
“Lebih baik ceramah membaca sehingga tidak terlalu komunikatif tapi tidak membuat kesalahan, daripada dipaksa-paksakan seolah-olah pinter sendiri dan bahasanya tidak karuan,” kata Ali Aziz.
Langkah berikutnya, sambung Ali, adalah latihan. “Sebuah ceramah itu latihan harus ratusan kali,” tuturnya. Ia juga menceritakan bahwa saat dirinya menjadi khatib untuk satu topik, persiapannya dua minggu. Saat latihan juga diperlukan koreksi dari orang lain, benar-benar pengoreksian bukan pujian. Ia juga menegaskan bahwa tidak usah gila hormat. Orang besar itu bukan karena pangkat atau title tapi karena ilmu yang ia punya. Mental juga harus dipersiapkan, tambahnya. Karena kalau tidak siap bisa lupa semuanya.
Bagi Ali Aziz, seorang tokoh agama bisa diterima atau tidak oleh masyarakat, bukan diukur dari enak atau tidak enaknya, bukan pula soal bacaan imam itu bagus atau tidak, melainkan diukur dari akhlaqnya sehari-hari.
Menurutnya, ukuran orang baik di Jawa itu adalah suka menyapa dengan orang sekitarnya. Menyapa itu adalah memanggil orang terlebih dahulu sebelum orang lain memanggil. Ia juga mengatakan kepada kurang lebih 100 peserta yang hadir pada saat itu bahwa pintar ceramah tapi tidak pintar bergaul merupakan kegagalan.
Yang tidak kalah pentingnya, agar bisa berdakwah dengan lancar dan menarik maka perlu sekali mempersiapkan topik yang sesuai dengan latar belakang pengetahuan si penceramah. Satu topik yang dipilih harus memiliki persiapan 300 kali lebih tahu tentang yang akan disampaikan, jangan sampai pas-pasan. “Kalau tidak sesuai dengan bidangnya nanti akan ngawur,” tambahnya.
Selain itu, topik yang disampaikan harus menarik, baik bagi pemateri ataupun audiens. Menurut Ketua Umum Asosiasi Dai se-Indonesia itu, jika pemateri senang dengan topik yang dibawakan auranya akan beda. Ia juga menekankan bahwa topik yang akan disampaikan harus sesuai dengan waktu yang ditentukan. Ia mengibaratkan “When you speak more than 30 minutes, you speak with animal,” katanya. Sebab menurut ukuran komunikasi orang hanya mampu diajak bicara 30 menit. Ia memberi solusi saat ceramah kita berceramah bisa 30 menit selebihnya kita bisa mengajak bicara audiens atau memberikan pertanyaan dan memberikan reward bagi yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan.
Tidak hanya itu, pria yang pernah menjadi penceramah di Asia, Afrika dan Eropa ini menjelaskan tentang ceramah spontan. Ia menjelaskan bahwa ceramah spontan terjadi karena keadaan yang memaksa. Maka untuk menghadapi hal semacam itu, yang harus dipersiapkan adalah siapkan topik untuk waktu 10 menit kemudian taruh di saku dan dibawa kemana-mana. Cukup topik yang umum saja yang tidak terikat dengan waktu seperti pentingnya baca Alquran yang bagus, pentingnya shalat yang khusyu’, pentingnya akhlak dengan tetangga dan lain-lain.
Menutup paparannya, Ali Aziz memberi kiat agar pendengar ceramah tidak mudah bosan. Salah satunya adalah memberi sapaan pada audiens dari segala arah. Berkat kemampuannya dalam retorika dakwah, Ali Aziz pada April tahun depan berencana mendatangi undangan berkeliling 15 tempat di Amerika untuk memberikan training tentang “Apakah benar orang Islam bisa senang dengan shalatnya?”. (Pathricia/wid)











