JOMBANG — Regenerasi tidak dapat dibangun secara instan. Karena itu, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menerapkan sistem pembinaan berjenjang bagi generasi penerusnya, mulai dari usia dini hingga lanjut usia, sebagai upaya menjaga kesinambungan transfer ilmu, nilai, dan kepemimpinan antargenerasi.
Hal itu disampaikan Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, saat menghadiri Perkemahan Akhir Tahun Ajaran Cinta Alam Indonesia (Permata CAI) ke-47 di Kosambiwojo, Wonosalam, Jombang, Senin (29/6). Perkemahan yang diselenggarakan Pondok Pesantren Gadingmangu tersebut dibuka oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta dihadiri para sesepuh pondok pesantren.
Menurut Amrodji, pembinaan dilakukan secara bertahap sesuai fase perkembangan peserta. Tahapan tersebut dimulai dari kelompok usia anak-anak (cabe rawit), praremaja, remaja, usia nikah, dewasa, hingga manula.
“Yang kita bangun adalah kesinambungan. Generasi yang lebih tua harus mentransformasikan ilmu dan pengalamannya kepada generasi berikutnya agar estafet pembinaan tidak terputus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, fase pembinaan remaja menjadi salah satu tahapan yang paling menentukan karena pada masa itu mulai terbentuk karakter, pola pikir, dan jiwa kepemimpinan. Oleh sebab itu, pembinaan tidak hanya dilakukan di lingkungan masjid masing-masing, tetapi juga melalui kolaborasi antarpembina dan antarmasjid dalam satu wilayah. Pola tersebut diharapkan dapat memperluas interaksi sekaligus memperkaya pengalaman generasi muda.
Dalam menyiapkan kader, lanjut Amrodji, LDII memfokuskan pembinaan pada tiga aspek utama, yakni penguatan ilmu agama, penguasaan ilmu keduniaan, dan pembentukan karakter.
“Ilmu agama menjadi fondasi dalam menjalankan kehidupan beragama, ilmu keduniaan membekali generasi muda agar mandiri, sedangkan karakter menjadi modal dalam berinteraksi dan memimpin di tengah masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan karakter di lingkungan LDII diwujudkan melalui penerapan 29 karakter luhur yang ditanamkan secara bertahap sesuai jenjang pembinaan. Melalui sistem tersebut, LDII berharap dapat melahirkan generasi yang memiliki pemahaman agama yang baik, kompetensi di bidangnya, serta karakter yang kuat sehingga mampu melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Amrodji juga mengapresiasi Pondok Pesantren Gadingmangu, Jombang yang secara konsisten menyelenggarakan Permata CAI sebagai wadah pembinaan generasi muda. Menurutnya, kegiatan tersebut selaras dengan pola kaderisasi yang diterapkan LDII karena tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, kemandirian, dan semangat kebangsaan.
Kegiatan yang diikuti sekitar seribu generasi muda itu diisi dengan berbagai materi pembinaan, mulai dari wawasan kebangsaan, penguatan nilai-nilai karakter, kepemimpinan, kerja sama tim (team building), kedisiplinan, hingga aktivitas yang menumbuhkan kepedulian sosial dan kecintaan terhadap lingkungan. Melalui rangkaian pembinaan tersebut, peserta diharapkan memiliki karakter yang kuat, jiwa kepemimpinan, serta kesiapan untuk berkontribusi bagi bangsa dan masyarakat. (sof/wid)












