SURABAYA — Harta yang benar-benar menjadi milik seseorang bukanlah yang ditumpuk atau disimpan, melainkan yang telah dimanfaatkan dan dibelanjakan di jalan yang diridhai Allah SWT. Hal itu disampaikan Ustaz Abdullah Salam saat mengkaji Al Quran dalam pengajian warga PC LDII Gunung Anyar di Masjid Nurul Hikmah, Surabaya, Minggu (14/6).
Dalam kajian tersebut, Abdullah Salam menjelaskan bahwa terdapat tiga bentuk harta yang hakiki bagi seorang muslim. Pertama, rezeki yang dimakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kedua, harta yang digunakan sehingga memberikan manfaat hingga habis atau rusak karena dipakai. Ketiga, harta yang disedekahkan di jalan Allah SWT.
“Harta yang hakiki ada tiga, yaitu yang kita makan, yang kita pakai sampai habis manfaatnya, dan yang kita sedekahkan. Dari ketiga itu, yang menjadi simpanan untuk akhirat adalah yang kita sedekahkan, sedangkan yang lain manfaatnya hanya di dunia,” ujarnya.
Menurut Abdullah Salam, pemahaman tersebut penting agar umat Islam memiliki pandangan yang benar tentang kepemilikan harta. Ia mengingatkan bahwa manusia sering kali merasa memiliki banyak kekayaan, padahal sebagian besar harta yang dikumpulkan pada akhirnya akan ditinggalkan.
“Jangan sampai seluruh perhatian kita hanya tertuju pada mengumpulkan harta. Yang akan kita bawa sebagai bekal adalah amal dan kebaikan yang lahir dari harta tersebut, salah satunya melalui infak dan sedekah,” katanya.
Ia menjelaskan, sedekah tidak terbatas pada bantuan kepada individu yang membutuhkan, tetapi juga dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk amal jariyah yang manfaatnya dirasakan banyak orang. Di antaranya melalui infak pembangunan masjid, pembiayaan kegiatan dakwah, penyediaan sarana pendidikan agama, maupun berbagai program sosial kemasyarakatan.
“Ketika harta digunakan untuk kepentingan agama dan kemaslahatan umat, maka pahalanya akan terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan,” tutur Abdullah Salam.
Melalui kajian Al Quran tersebut, jamaah diharapkan semakin memahami hakikat kepemilikan harta dan terdorong untuk mengoptimalkan rezeki yang dimiliki di jalan kebaikan. Dengan demikian, harta tidak hanya memberi manfaat selama hidup di dunia, tetapi juga menjadi bekal yang bernilai di akhirat. (sof)












