JAKARTA — Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menegaskan bahwa 8 program prioritas LDII tetap relevan di tengah tantangan kebangsaan yang kian kompleks, termasuk dampak gejolak global akibat konflik di Timur Tengah.
Dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional (Munas) X LDII di Ballroom Minhajurrosiddin, Jakarta, Selasa (7/4/2026), Chriswanto mengatakan, situasi global saat ini menunjukkan bahwa ketahanan bangsa tidak cukup hanya ditopang oleh kekuatan negara secara formal, tetapi juga memerlukan kesiapan masyarakat dari berbagai aspek kehidupan.
“LDII punya delapan program prioritas yang sampai saat ini masih relevan dengan kondisi sekarang, bahkan bersinergi dengan program pemerintah,” ujarnya.
Menurut dia, konflik global yang terjadi jauh dari Indonesia tetap membawa dampak nyata terhadap kehidupan nasional, mulai dari sektor energi, pangan, ekonomi, hingga stabilitas sosial. Karena itu, organisasi kemasyarakatan seperti LDII perlu mengambil peran melalui penguatan program-program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Chriswanto menjelaskan, delapan program prioritas LDII meliputi kebangsaan, keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi syariah, energi baru terbarukan, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, serta teknologi digital.
Ia menilai, keseluruhan program tersebut tidak hanya relevan bagi penguatan organisasi, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan bangsa di tengah perubahan global yang cepat dan penuh ketidakpastian.
Penguatan SDM Jadi Fondasi
Chriswanto mengatakan, penguatan sumber daya manusia (SDM) tetap menjadi prioritas utama. Menurut dia, bangsa yang kuat harus dibangun dari manusia yang memiliki karakter, wawasan kebangsaan, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.
“Kita lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, dan insya Allah mati di Indonesia. Maka ketika Indonesia terguncang, itu pasti memengaruhi kehidupan kita. Karena itu kita ikut bertanggung jawab menjaga bangsa ini,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan SDM tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal, tetapi juga pembentukan karakter, penguatan nilai keagamaan, serta penanaman rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan negara.
Dalam konteks itu, Chriswanto menilai penguatan pendidikan dan kesehatan menjadi dua pilar penting untuk menjaga kualitas generasi di tengah tantangan sosial yang terus berkembang.
Pangan, Energi, dan Digital
Selain SDM, Chriswanto menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan, energi baru terbarukan, dan teknologi digital. Menurut dia, tiga sektor itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari daya tahan bangsa dalam menghadapi tekanan global.
Pada sektor pangan, LDII mendorong pengembangan pertanian berbasis teknologi dan lingkungan, termasuk melalui pendekatan smart farming dan pengembangan komoditas alternatif. Sementara di bidang energi, LDII mulai mengembangkan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di sejumlah fasilitas organisasi.
Adapun dalam bidang digital, LDII menaruh perhatian pada literasi teknologi dan pembinaan generasi muda agar mampu memanfaatkan perkembangan digital secara sehat, produktif, dan bertanggung jawab.
Chriswanto menyebut seluruh langkah itu sebagai bagian dari dakwah bil hal, yakni dakwah melalui kontribusi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Dakwah bukan hanya ceramah, tetapi juga memberi contoh kontribusi positif bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Kontribusi untuk Ketahanan Nasional
Menurut Chriswanto, Munas X LDII menjadi momentum untuk menegaskan bahwa program-program organisasi harus terus diarahkan agar relevan dengan kebutuhan bangsa. Ia berharap, delapan prioritas itu tidak berhenti sebagai rumusan organisasi, tetapi dapat diwujudkan dalam langkah konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Munas X LDII yang berlangsung pada 7–9 April 2026 itu menjadi forum strategis organisasi untuk merumuskan arah kepengurusan dan program kerja lima tahun ke depan, di tengah tantangan nasional dan global yang terus berkembang. (sof/wid)












