SURABAYA — Sembilan perguruan pencak silat menandatangani deklarasi damai dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) VI PERSINAS ASAD Jawa Timur yang digelar di Gedung Serba Guna Sabilurrosyidin, Surabaya, Sabtu (31/1). Penandatanganan tersebut disaksikan Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jawa Timur Bambang Haryo Soekartono.
Sembilan perguruan tersebut diantaranya Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Tapak Suci, Pagar Nusa, Cempaka Putih, Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti, Merpati Putih, Perisai Diri, PERSINAS ASAD, serta Pencak Silat Militer (PSM).
Deklarasi damai ini menjadi komitmen bersama untuk menjaga persatuan dan kondusivitas pencak silat di Jawa Timur. Ketua Umum IPSI Jawa Timur Bambang Haryo Soekartono menegaskan, komitmen tersebut harus dijaga secara konsisten.
“Semua perguruan harus guyub dan saling menghormati. Kita adalah satu persatuan,” ujar Bambang Haryo.
Ia menambahkan, Musprov VI PERSINAS ASAD Jatim tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal organisasi, tetapi juga mempererat hubungan antarperguruan pencak silat yang tergabung dalam IPSI Jawa Timur.
Menurutnya, tidak ada satu pun perguruan pencak silat yang mengajarkan kekerasan. Jika terjadi gesekan atau bentrokan antaroknum pesilat, hal tersebut dipastikan tidak mencerminkan ajaran perguruan.
“Semua perguruan mengajarkan kesantunan, budaya, disiplin, serta nilai kebangsaan. Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan NKRI menjadi bagian dari janji pesilat yang harus dijalankan,” tegasnya.
Melalui Musprov dan deklarasi damai ini, IPSI Jawa Timur berharap tidak ada lagi oknum yang mencederai nilai-nilai luhur pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan.

Sementara itu, Ketua Umum PB PERSINAS ASAD Marsma TNI (Purn) H. Sukur menyampaikan bahwa PERSINAS ASAD mengusung visi besar yang dijalankan melalui tiga misi utama organisasi.
Misi pertama adalah penguatan organisasi. Menurutnya, PERSINAS ASAD harus tampil sebagai organisasi yang modern, akuntabel, dan tertib administrasi. Pengelolaan organisasi yang rapi menjadi syarat mutlak agar organisasi dapat berkembang secara efektif dan berkelanjutan.
“Kita harus menjadi organisasi yang modern, akuntabel, dan tertib administrasi. Tanpa pengelolaan yang rapi, organisasi tidak akan berkembang dengan baik,” ujarnya.
Misi kedua, lanjut Sukur, adalah penguatan prestasi. PERSINAS ASAD menempatkan pembinaan atlet sebagai fokus utama dengan pendekatan berbasis sport science agar mampu melahirkan pesilat-pesilat berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menyebut Jawa Timur sebagai salah satu pusat pesilat berprestasi di Indonesia. Karena itu, pembinaan atlet di daerah ini harus dikelola secara profesional agar potensi yang ada dapat berkembang maksimal.
“Kita tidak boleh berpuas diri. Pola pembinaan atlet harus berbasis sport science agar terus melahirkan jawara di gelanggang kompetisi,” tegasnya.
Sukur juga menekankan pentingnya peran pelatih, wasit, dan pengurus dalam mendukung pembinaan atlet. Ia mencontohkan keberadaan wasit internasional dan pelatih berpengalaman di Jawa Timur yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas pembinaan.
Ia berharap pembinaan atlet PERSINAS ASAD Jawa Timur dapat berkontribusi dalam mendukung prestasi IPSI Jawa Timur, termasuk pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang, bahkan hingga melahirkan pesilat yang mampu bersaing di tingkat Olimpiade.
Misi ketiga adalah menjaga jati diri pencak silat sebagai warisan budaya bangsa. Menurut Sukur, pencak silat tidak hanya soal prestasi, tetapi juga harus tetap berakar pada tradisi dan kearifan lokal.
“Kita tidak boleh melupakan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang memiliki tradisi. Pencak silat harus terus dikembangkan dengan menjunjung kearifan lokal,” pungkasnya. (sof/wid)












