JEMBER — Festival Anak Sholeh (FAS) menjadi salah satu sarana pembinaan generasi penerus (generus) di Pimpinan Cabang (PC) LDII Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sejumlah perlombaan dalam kegiatan tersebut digunakan untuk mengevaluasi pembelajaran agama sekaligus melatih karakter dan kemandirian anak.
FAS diikuti anak tingkat PAUD hingga sekolah dasar, pada Minggu (2/8). Perlombaan yang digelar meliputi mewarnai dan menyusun huruf hijaiyah, hafalan surat pendek dan doa harian, praktik dan bacaan shalat, cerdas cermat agama, serta lomba kemandirian.
Ragam perlombaan tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta. Selain menguji pemahaman anak terhadap materi keagamaan yang telah dipelajari, kegiatan itu menjadi ruang bagi anak untuk berlatih percaya diri, disiplin, bertanggung jawab, dan mandiri.
Ketua Penggerak Pembina Generus (PPG) Fawas Baihaqi mengatakan, FAS merupakan bagian dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong anak untuk terus belajar dan mengamalkan pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui Festival Anak Sholeh ini, kami berharap anak-anak semakin termotivasi untuk terus belajar Al-Qur’an dan Al-Hadits, memiliki akhlakul karimah, serta tumbuh menjadi generasi yang profesional religius,” ujar Fawas.
Menurut Fawas, pembentukan karakter tidak dapat dilakukan melalui satu kegiatan. Nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian perlu ditanamkan secara terus-menerus melalui kegiatan pembinaan yang terstruktur, “Pembinaan karakter sejak dini adalah investasi jangka panjang,” katanya.

Ketua PC LDII Kaliwates Tugimin mengatakan, kegiatan seperti FAS dibutuhkan untuk menjaga kesinambungan pembinaan generus. Menurut dia, anak perlu mendapatkan ruang untuk belajar sekaligus menunjukkan perkembangan kemampuan mereka.
“Pembinaan generasi penerus tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan butuh wadah dan konsistensi. Melalui ajang FAS ini, kami ingin memastikan bahwa anak-anak kita tidak hanya dibekali keilmuan umum, tetapi juga memiliki landasan agama dan moral yang kokoh agar siap menjadi tumpuan masa depan,” kata Tugimin.
Menurut Tugimin, peran orang tua juga diperlukan untuk melanjutkan pembiasaan yang diberikan dalam kegiatan pembinaan. Dengan demikian, nilai yang dipelajari anak tidak hanya diterapkan ketika mengikuti kegiatan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. (kim/sof/wid)












