SURABAYA — Menjelang bulan suci Ramadan, umat Islam diingatkan agar tidak hanya menyiapkan fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Ramadan diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPW LDII Jawa Timur, H Moch Amrodji Konawi, dalam Podcast Ruang Informasi episode ke-89 yang disiarkan dari Studio Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jawa Timur.
Dalam perbincangan tersebut, Amrodji memaparkan konsep Lima Sukses Ramadan, sebuah panduan ibadah yang dirumuskan LDII untuk membantu umat Islam menjalani Ramadan secara utuh dan berkualitas.
“Lima sukses Ramadan ini merupakan hasil kajian dan pemikiran dari para ulama dan pimpinan LDII. Tujuannya agar umat Islam memiliki fokus ibadah yang jelas selama Ramadan,” ujar Amrodji.
Lima Sukses Ramadan
Menurut Amrodji, lima sukses Ramadan mencakup sukses puasa, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, meraih Lailatul Qadar dan zakat fitrah. Kelima aspek tersebut saling berkaitan dan membentuk kesempurnaan ibadah Ramadan.
Sukses puasa, kata dia, tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Lebih dari itu, puasa menuntut setiap Muslim untuk mampu menjaga sikap, ucapan, dan perbuatan dari hal-hal yang tidak bermanfaat serta menjauhi segala bentuk dosa.
Menurutnya, puasa merupakan sarana melatih pengendalian diri, kesabaran, dan kejujuran, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Melalui puasa, umat Islam diajak untuk lebih peka terhadap nilai-nilai kebaikan dan meningkatkan kualitas ibadah sehari-hari.
“Puasa bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Karena itu, puasa seharusnya membawa perubahan sikap, bukan hanya selama Ramadan, tetapi juga setelahnya,” jelasnya.
Sementara itu, sukses salat tarawih ditekankan melalui pelaksanaan salat malam secara berjemaah hingga selesai bersama imam. Menurut Amrodji, salat tarawih memiliki keutamaan besar karena menjadi bagian dari ibadah malam di bulan Ramadan yang pahalanya dijanjikan sangat besar oleh Allah SWT.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa orang yang melaksanakan salat tarawih bersama imam hingga tuntas akan memperoleh pahala setara dengan salat sepanjang malam. Karena itu, umat Islam dianjurkan mengikuti salat tarawih secara berjemaah dan tidak meninggalkannya di tengah pelaksanaan.
Terkait perbedaan jumlah rakaat salat tarawih yang kerap menjadi perbincangan di masyarakat, Amrodji menegaskan bahwa seluruhnya memiliki dasar dalam ajaran Islam. Menurutnya, perbedaan tersebut seharusnya disikapi dengan saling menghormati.
“Yang tidak ada dasarnya adalah tidak salat. Perbedaan jumlah rakaat jangan sampai menjadi sumber perpecahan, apalagi di bulan Ramadan yang seharusnya diisi dengan kebersamaan dan persaudaraan,” ujarnya.
Aspek ketiga adalah sukses tadarus Al-Qur’an. Dalam hal ini, LDII menganjurkan warganya untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an selama bulan Ramadan, dengan target minimal khatam satu kali. Menurut Amrodji, Ramadan merupakan momentum terbaik untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an karena pahalanya dilipatgandakan.
Ia menjelaskan bahwa membaca satu huruf Al-Qur’an saja bernilai sepuluh kali pahala di hari biasa. Di bulan Ramadan, pahala tersebut menjadi jauh lebih besar. Karena itu, ia mengingatkan agar waktu Ramadan tidak habis untuk kegiatan yang kurang bermanfaat, sementara kesempatan membaca Al-Qur’an justru terlewatkan.
“Sangat disayangkan jika Ramadan berlalu tanpa interaksi yang intens dengan Al-Qur’an. Padahal, inilah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia,” kata Amrodji.
Sementara itu, sukses meraih Lailatul Qadar dilakukan dengan menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan melalui berbagai ibadah, seperti itikaf di masjid, salat malam, memperbanyak doa, dan membaca Al-Qur’an. Amrodji menyebut, malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang sangat besar dan menjadi puncak ibadah di bulan Ramadan.
Malam Lailatul Qadar, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr, lebih baik dari seribu bulan atau setara dengan lebih dari 83 tahun ibadah. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan sebagai kesempatan meraih pahala yang nilainya melampaui usia manusia pada umumnya.

Zakat sebagai Penyempurna Ibadah
Pilar terakhir adalah sukses zakat fitrah. Amrodji menegaskan bahwa zakat fitrah merupakan kewajiban setiap Muslim yang harus ditunaikan menjelang Idul Fitri dan menjadi bagian penting dalam menyempurnakan ibadah puasa Ramadan. Menurutnya, puasa tidak hanya berdimensi ibadah pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang harus diwujudkan melalui zakat.
Ia menjelaskan bahwa zakat fitrah berfungsi membersihkan diri dari kekurangan selama menjalankan puasa, sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan agar dapat merayakan Idul Fitri dengan layak. Karena itu, LDII berupaya memastikan pendistribusian zakat fitrah berjalan tertib, tepat sasaran, dan adil.
Amrodji menambahkan, LDII juga mendorong adanya kepedulian bersama agar warga yang kurang mampu tetap bisa menunaikan kewajiban zakat fitrah, baik melalui bantuan maupun pendampingan dari pengurus dan masyarakat sekitar.
“Zakat fitrah bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga bentuk kepedulian sosial. Melalui zakat, kita berbagi kebahagiaan dengan fakir miskin agar mereka juga dapat merasakan kegembiraan menjelang Idul Fitri,” ujarnya.
Membentuk Karakter dan Menjaga Kerukunan
Amrodji menambahkan, implementasi lima sukses Ramadan di lingkungan LDII dilakukan melalui pengajian rutin Al-Qur’an dan hadis, evaluasi ibadah, serta pembinaan berkelanjutan. Tujuannya agar perubahan positif yang dicapai selama Ramadan dapat berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Menutup perbincangan, Amrodji mengajak masyarakat Jawa Timur untuk menyambut Ramadan dengan kesiapan lahir dan batin, sekaligus menjaga toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman.
“Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum pembentukan karakter menuju pribadi yang bertakwa dan bermanfaat bagi sesama,” katanya.
Melalui Podcast Ruang Informasi produksi Diskominfo Jatim, konsep lima sukses Ramadan diperkenalkan sebagai panduan ibadah yang mendorong umat Islam menjalani Ramadan secara lebih terarah, bermakna, dan penuh kepedulian sosial. (sof/wid)












