GRESIK — Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menegaskan komitmennya terhadap empat pilar kebangsaan sebagai fondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa. Penegasan tersebut disampaikan dalam dialog kebangsaan pada rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) X LDII Kabupaten Gresik, Selasa (14/4), di Gedung DPD LDII setempat.
Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch Amrodji Konawi, menyatakan bahwa komitmen terhadap empat pilar kebangsaan merupakan prinsip yang tidak berubah.
“Komitmen terhadap empat pilar kebangsaan sudah final dan tidak perlu dipertanyakan lagi,” ujarnya.
Empat pilar tersebut meliputi Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat persatuan.
Amrodji menambahkan, sejak berdiri pada 1 Juli 1972, LDII telah menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi. Hal itu, menurut dia, menunjukkan konsistensi LDII sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang juga menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan.
“Sejak awal berdiri, LDII telah berkomitmen pada asas Pancasila. Ini menjadi bagian dari jati diri organisasi,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Kesatuan Bangsa Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Gresik, Siri Rahayu, menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
Ia menggambarkan Indonesia sebagai negara besar yang terdiri atas ribuan pulau, ratusan suku, serta beragam agama dan aliran kepercayaan. Kondisi tersebut, menurut dia, memerlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa.
“Merawat satu keluarga saja tidak mudah, apalagi menjaga negara dengan ribuan pulau dan beragam suku. Karena itu, semua elemen, termasuk ulama dan organisasi kemasyarakatan, memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan,” ujarnya.
Menurut dia, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Oleh karena itu, wawasan kebangsaan perlu terus diperkuat sebagai cara pandang dalam kehidupan bermasyarakat.
“Cara pandang kita harus berbasis wawasan kebangsaan, bukan semata-mata kepentingan kelompok atau golongan. Kita adalah satu bangsa Indonesia, meskipun berbeda suku, budaya, dan agama,” kata Siri.
Dialog kebangsaan dalam rangkaian Musda X LDII Gresik ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman nilai-nilai kebangsaan sekaligus menjaga harmoni di tengah keberagaman masyarakat. (sof/wid)












