BANDAR LAMPUNG — Usia mandiri bukan lagi masa coba-coba atau sekadar mencari jati diri. Fase ini menuntut seseorang lebih serius menentukan arah hidup serta bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil. Di usia tersebut, mimpi tidak cukup hanya dipikirkan, tetapi harus mulai diwujudkan melalui langkah-langkah nyata.
Hal itu disampaikan wirausahawan asal Lampung, Kholid Fatsani, saat mengisi acara Pertemuan Akbar Generasi Usia Mandiri yang digelar di Aula Kantor DPW LDII Lampung, Labuhan Dalam, Bandar Lampung, Minggu (28/12).
Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan terletak pada kurangnya potensi, melainkan lemahnya komitmen untuk memulai. “Jangan takut salah dan jangan menunggu siap. Mulailah dari apa yang ada, lalu terus belajar,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa proses belajar menjadi kunci utama dalam membangun kemandirian. Belajar tidak selalu harus melalui pendidikan formal, tetapi juga dapat diperoleh dari pengalaman, kegagalan, serta keberhasilan orang lain. Semakin luas wawasan yang dimiliki, semakin matang pula cara berpikir dan mengambil keputusan.
Selain itu, memperluas relasi dinilai sebagai investasi penting. Relasi tidak hanya membuka peluang, tetapi juga memperkaya sudut pandang dan kerap menjadi jembatan menuju kesempatan yang tidak terduga. Keberanian untuk bekerja sama dengan orang lain pun menjadi keterampilan yang tidak bisa diabaikan, mengingat kesuksesan di dunia nyata jarang dicapai secara individual. Kolaborasi mengajarkan nilai saling percaya, menghargai perbedaan, dan menyatukan kekuatan demi tujuan bersama.
Kegiatan tersebut diikuti oleh Generasi Penerus (Generus) LDII berusia 23 tahun ke atas. Pertemuan tersebut untuk menumbuhkan semangat generus usia mandiri dalam wirausaha, sekaligus menjadi ajang silaturahim antar generus yang telah memasuki fase pranikah.
Ketua DPD LDII Kota Bandar Lampung, M. Miftah Falah, menjelaskan bahwa pembinaan yang dilakukan berlandaskan pendekatan pendidikan yang menyeimbangkan pendidikan umum, keterampilan, pendidikan agama, serta pembentukan karakter. Pendekatan tersebut menjadi acuan pembinaan di setiap jenjang usia dengan mempertimbangkan kondisi dan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Berbagai persoalan seperti pengaruh pergaulan, derasnya arus informasi digital, rendahnya daya juang, hingga kesiapan menghadapi tanggung jawab sosial dan dunia kerja menjadi perhatian dalam proses pembinaan. “Konsep pendidikan inilah yang melatarbelakangi LDII untuk terus melakukan pembinaan di setiap jenjang usia sesuai dengan kebutuhannya,” ujar Miftah Falah.
Ia menambahkan bahwa pada jenjang usia mandiri, pembinaan difokuskan pada penguatan kemandirian ekonomi agar generasi muda bisa memiliki usaha dan penghasilan sendiri. Pada fase ini, generus tidak hanya didorong untuk bekerja, tetapi juga dibekali pengetahuan dan wawasan tentang cara menjemput rezeki secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Ke depan, lanjutnya, telah disiapkan berbagai program pelatihan keterampilan yang akan diberikan secara bertahap kepada generus usia mandiri. Pelatihan tersebut disesuaikan dengan minat, potensi, dan kebutuhan zaman, sehingga generus memiliki bekal praktis dalam menghadapi dunia kerja maupun merintis usaha. Dengan pembinaan tersebut, diharapkan generus mampu mengelola peluang, beradaptasi dengan perubahan, serta memiliki kesiapan ekonomi yang lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat. (kim/sof/wid)












