SURABAYA — Menjadi pengurus organisasi berarti siap meluangkan lebih banyak waktu untuk melayani. Tidak jarang, waktu bersama keluarga harus dikorbankan demi menjalankan amanah organisasi. Namun, pengorbanan itu justru menjadi bagian dari nilai ibadah yang melekat pada seorang pemimpin. Pesan tersebut disampaikan Dewan Penasihat PC LDII Gunung Anyar, Lukman Efendi, saat memberikan pembekalan kepada pengurus Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII Kecamatan Gunung Anyar di Masjid Nurul Hikmah, Surabaya, Senin (27/7) malam.
Menurut Lukman, setiap pengurus memikul tanggung jawab yang besar. Amanah yang diterima bukan sekadar kepercayaan dari organisasi, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban. Sebaliknya, mereka yang mampu menjalaninya dengan penuh keikhlasan akan memperoleh balasan yang besar.
“Menjadi pengurus adalah perjuangan. Banyak yang rela mengorbankan waktunya, sehingga waktu bersama keluarga menjadi berkurang. Karena itulah pahala seorang pengurus yang menjalankan amanah dengan baik juga sangat besar,” ujarnya.
Bagi Lukman, tugas seorang pemimpin tidak berhenti pada kemampuan menyusun program kerja atau menggerakkan organisasi. Lebih dari itu, pemimpin harus mampu memahami karakter setiap anggota yang dipimpinnya.
“Kalau memiliki 100 anggota, berarti seorang pemimpin harus memiliki 101 hati yang harus ditata dalam dirinya,” katanya.
Menurut dia, ungkapan tersebut menggambarkan pentingnya empati dalam memimpin. Seorang pemimpin dituntut mampu memahami karakter, kondisi, dan kebutuhan setiap anggota sehingga dapat bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan maupun menyelesaikan persoalan.
Selain memiliki empati, seorang pemimpin juga perlu memiliki semangat yang tinggi, cekatan, serta didukung kondisi fisik dan mental yang baik. Ia harus mampu mengendalikan emosi, tidak mudah memvonis anggota, dan memiliki kepercayaan diri dalam menjalankan tugasnya.
Lukman menambahkan, pemimpin juga dituntut memiliki pengetahuan yang memadai, mampu memotivasi diri sendiri maupun anggotanya, serta menjadi teladan, paling tidak di lingkungan keluarga. Kemampuan berkomunikasi, membudayakan musyawarah sebelum mengambil keputusan, serta menyiapkan regenerasi kepemimpinan menjadi bekal penting agar organisasi tetap berjalan secara berkesinambungan.
Melalui pembekalan tersebut, para pengurus PC dan PAC LDII Gunung Anyar diharapkan semakin memahami bahwa menjadi pengurus bukan sekadar mengemban jabatan. Mereka juga memikul tanggung jawab untuk melayani, menjadi teladan, dan menjaga keberlangsungan organisasi melalui kepemimpinan yang berintegritas. (sof/wid)












