SURABAYA—Menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi santri menjadi perhatian DPW LDII Jawa Timur. Melalui penguatan pembinaan, pendampingan, dan sistem pengawasan, pesantren di lingkungan LDII berupaya membangun budaya pendidikan yang menanamkan kedisiplinan, kepedulian, serta perlindungan terhadap santri.
Upaya tersebut menjadi pembahasan dalam Diskusi daring bertajuk “Ketika Perundungan Berujung Penyimpangan“ yang diselenggarakan Biro Pengabdian Masyarakat (Penamas) DPW LDII Jawa Timur, Senin (13/7). Kegiatan tersebut diikuti pengurus DPD LDII kabupaten/kota, pengelola lembaga pendidikan, serta pesantren di lingkungan LDII.
Webinar menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan psikolog, tenaga medis, dan pengurus LDII Jawa Timur. Anggota Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPW LDII Jawa Timur, Nanang Ridwan, mengatakan pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian santri.
Menurut Nanang, pendidikan di pesantren tidak hanya berorientasi pada aspek akademik dan keagamaan, tetapi juga pembentukan sikap, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama. Karena itu, diperlukan lingkungan pembinaan yang mendukung agar santri dapat berkembang secara positif.
“Pencegahan tidak cukup dilakukan setelah muncul persoalan. Yang lebih penting adalah membangun lingkungan pembinaan yang mampu mendeteksi dan mencegah masalah sejak dini,” ujar Nanang.
Selain pembinaan karakter, Nanang menjelaskan pesantren di bawah naungan LDII juga menerapkan standar pengelolaan asrama untuk mendukung keamanan dan kenyamanan santri. Standar tersebut mencakup pengaturan tempat tinggal, sistem penerangan, serta pola pengawasan oleh pamong.
Dalam pengelolaan kamar, setiap santri diarahkan menempati tempat tidur masing-masing untuk menjaga ruang pribadi dan menciptakan lingkungan yang tertib. Penerangan kamar juga tetap disiapkan agar pamong dapat melakukan pemantauan secara berkala.
Selain itu, sejumlah fasilitas asrama dirancang untuk mendukung pengawasan. Bagian atas pintu kamar menggunakan material kaca sehingga pamong dapat melihat kondisi umum kamar tanpa mengganggu aktivitas santri.
Nanang menegaskan, pengaturan tersebut bukan bertujuan membatasi ruang gerak santri, melainkan bagian dari upaya perlindungan dan pencegahan agar kehidupan asrama berjalan aman, tertib, dan mendukung proses pembinaan.
“Pengawasan dilakukan sebagai bentuk pencegahan dan perlindungan terhadap santri, sehingga kegiatan di lingkungan asrama tetap berjalan dalam koridor pembinaan yang baik,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur Moch Amrodji Konawi mengatakan keberhasilan pembinaan santri membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pendidikan. Kedekatan antara pengasuh, pendidik, dan santri menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pesantren yang kondusif.
Amrodji mengatakan diskusi tersebut merupakan ikhtiar LDII Jawa Timur untuk memperkuat kapasitas pengelola pesantren dan lembaga pendidikan dalam membangun sistem pembinaan yang mampu mencegah perundungan maupun perilaku yang dapat merugikan santri. Menurut dia, lingkungan pendidikan yang aman harus dibangun melalui sinergi antara pengasuh, pamong, orang tua, dan peserta didik. (sof/wid)












