SURABAYA – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Timur menggelar Diskusi Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) secara daring via Zoom, Minggu (12/7). Langkah ini diambil sebagai upaya nyata menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Diskusi yang bertajuk “Ketika Perundungan Berujung Penyimpangan: Memahami, Mencegah, dan Menangani Perundungan di Lingkungan Pesantren dan Boarding School” ini diikuti oleh jajaran Ketua dan Sekretaris DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur, pengurus bidang Pengabdian Masyarakat (Penamas), guru pondok pesantren binaan, kepala sekolah binaan, hingga guru Bimbingan Konseling (BK).
Ketua DPW LDII Jawa Timur, Amrodji Konawi, menegaskan bahwa materi dalam forum ini tidak boleh berhenti sebagai diskusi semata, melainkan harus segera diimplementasikan di seluruh ekosistem lembaga pendidikan dan pesantren.
”Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mampu membentuk generasi yang berakhlakul karimah,” ujar Amrodji Konawi saat membuka kegiatan.
Diskusi yang dipandu oleh Rio Azadi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Riko Lazuardi yang merupakan dokter spesialis kesehatan jiwa dan Sofia Sahid yang merupakan psikolog sekaligus Ketua Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga DPW LDII Jawa Timur. Keduanya mengupas fenomena perundungan dari aspek keagamaan, kesehatan jiwa, psikologi, hingga langkah preventif yang konkret.
Dalam pemaparannya, Riko Lazuardi menjelaskan bahwa Islam melarang keras segala bentuk penghinaan terhadap sesama. Nilai saling menolong dan melindungi harus ditanamkan sejak dini agar santri tidak menganggap remeh tindakan perundungan. Ia juga memperingatkan dampak psikologis jangka panjang dari perundungan yang tidak ditangani dengan tepat.
”Trauma yang tidak diselesaikan berpotensi memengaruhi perilaku seseorang di kemudian hari. Karena itu, pendampingan sejak dini menjadi sangat penting,” tegas Riko Lazuardi.
Sementara itu, Sofia Sahid menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan dan penguatan sistem pengawasan di lingkungan asrama. Menurutnya, santri harus diberikan pemahaman rutin mengenai batasan pergaulan serta keberanian untuk melapor jika mengalami kekerasan.
”Pengawasan kamar, pengaturan tempat tidur, pencahayaan yang memadai, serta keberadaan pamong yang aktif mendampingi santri menjadi bagian penting dalam mencegah terjadinya perundungan,” jelas Sofia Sahid.
Melalui forum ini, para narasumber juga mendorong setiap pondok pesantren untuk memiliki sistem deteksi dini. DPW LDII Jatim berharap seluruh sekolah dan pesantren dapat memperkuat sistem pencegahan kekerasan secara komprehensif demi melahirkan generasi profesional religius. (ysy)











