LAMONGAN — Melatih kemandirian pemuda, bisa dilakukan melalui pelatihan kuliner. Hal itu dilakukan PC LDII Babat, Lamongan, Senin (8/6/2026). Para peserta pelatihan dibekali keterampilan, kerja sama, dan kemandirian sebagai bekal menghadapi dunia kerja maupun peluang berwirausaha.
Ayam geprek dan lele krispi menjadi menu dalam pelatihan yang diikuti pemuda dari berbagai Pimpinan Anak Cabang (PAC) di wilayah PC LDII Babat, Lamongan. Peserta terlibat langsung dalam setiap tahapan, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah hingga menyajikan hasil masakan.
Dewan Penasihat LDII Babat, Suhermanto, mengatakan pelatihan kuliner merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang dikembangkan untuk membekali generasi muda dengan keterampilan praktis. Menurut dia, pembinaan tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknik memasak, tetapi juga membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama.
“Generasi muda perlu dibekali keterampilan dan jiwa mandiri sejak dini. Melalui kegiatan ini mereka belajar bekerja keras, bertanggung jawab, berinovasi, dan tidak bergantung kepada orang lain. Harapannya, mereka mampu menciptakan peluang usaha dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Selama pelatihan berlangsung, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok bertanggung jawab mengatur proses kerja, mulai dari pembagian tugas, pengolahan bahan, hingga penyajian hasil masakan. Pola tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami teknik memasak, tetapi juga terbiasa berkoordinasi dan menyelesaikan pekerjaan secara bersama.
Azka, peserta dari PAC LDII Kebalandono, mengaku memperoleh pengalaman baru karena seluruh peserta terlibat langsung dalam proses memasak.
“Saya senang bisa belajar memasak bersama teman-teman. Selain menambah keterampilan, kegiatan ini juga mengajarkan kerja sama dan tanggung jawab. Semoga ilmu yang diperoleh bisa saya praktikkan dalam kegiatan yang bermanfaat,” katanya.
Peserta lainnya, Naufal dari PAC LDII Sogo, menilai pelatihan tersebut memberikan pemahaman bahwa keterampilan kuliner tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengolah makanan, tetapi juga mengelola proses kerja.
“Saya belajar bahwa memasak bukan hanya membuat makanan, tetapi juga mengatur proses kerja, bekerja dalam tim, dan menghasilkan produk yang berkualitas,” ujarnya.
Melalui kegiatan berbasis praktik, peserta memperoleh pengalaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menjadi bekal apabila ingin mengembangkan usaha di bidang kuliner pada masa mendatang. (kim/sof/wid)











