LDII JAWA TIMUR
  • BERANDA
  • BERITA
    • NASIONAL
    • SEPUTAR JATIM
    • LINTAS DAERAH
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH ORMAS LDII
    • SUSUNAN PENGURUS DPW LDII JAWA TIMUR 2025-2030
    • SUSUNAN PENGURUS WANITA LDII JAWA TIMUR
    • SUSUNAN PENGURUS PEMUDA LDII JAWA TIMUR
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BERITA
    • NASIONAL
    • SEPUTAR JATIM
    • LINTAS DAERAH
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH ORMAS LDII
    • SUSUNAN PENGURUS DPW LDII JAWA TIMUR 2025-2030
    • SUSUNAN PENGURUS WANITA LDII JAWA TIMUR
    • SUSUNAN PENGURUS PEMUDA LDII JAWA TIMUR
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
LDII JAWA TIMUR
No Result
View All Result
Home SEPUTAR JATIM

Pemuda LDII Kediri Tak Ingin Bahasa Krama Luntur di Kalangan Generasi Muda

Reza Sefiana by Reza Sefiana
24 Juni 2026
in SEPUTAR JATIM
7 0
0
Ustaz Zainul Arifin Foto LINES Kediri

Ustaz Zainul Arifin. Foto: LINES Kediri

7
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

KEDIRI — Di tengah dominasi bahasa informal dan budaya digital dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa Jawa krama di kalangan generasi muda dinilai semakin tergerus. Kondisi tersebut mendorong Pemuda LDII Kota Kediri mengangkat tema pelestarian bahasa dan tata krama Jawa dalam pengajian yang diikuti ratusan generasi penerus (generus) di Pondok Kresek, Kota Kediri, Minggu (21/6).

Kegiatan yang dipandu Ustaz Zainul Arifin itu mengusung tema “Ngrumat Basa, Nguri-uri Tata Krama”. Tema tersebut bermakna menjaga penggunaan bahasa sekaligus melestarikan nilai-nilai kesopanan yang menjadi bagian dari budaya Jawa. Para peserta hadir mengenakan batik untuk memperkuat nuansa pelestarian budaya yang diangkat dalam kegiatan tersebut.

Dalam pemaparannya, Zainul menyoroti pentingnya menjaga penggunaan bahasa Jawa krama sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Menurut dia, kemampuan berbahasa Jawa tidak hanya berkaitan dengan komunikasi, tetapi juga menjadi sarana menanamkan penghormatan kepada orang lain, terutama kepada yang lebih tua.

“Generasi muda diharapkan mampu menggunakan bahasa Jawa dengan baik, terutama saat berbicara dengan orang yang lebih tua,” ujar Zainul.

Ia menjelaskan bahwa bahasa Jawa mengenal tingkatan bahasa atau unggah-ungguh basa, mulai dari basa ngoko hingga basa krama. Basa ngoko digunakan dalam percakapan dengan teman sebaya, sedangkan basa krama digunakan saat berinteraksi dengan orang yang lebih tua atau baru dikenal sebagai bentuk penghormatan.

Menurut Zainul, pemahaman terhadap penggunaan bahasa yang tepat perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar nilai-nilai budaya Jawa tidak terputus di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.

“Apabila belum mampu menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar, lebih baik menggunakan bahasa Indonesia yang sopan daripada menggunakan bahasa Jawa secara kurang tepat,” katanya.

Selain penggunaan bahasa, pengajian juga membahas tata krama yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Zainul menjelaskan bahwa masyarakat Jawa mengenal sejumlah etika sosial, seperti tidak memotong pembicaraan, menggunakan bahasa yang santun kepada orang yang lebih tua, serta membiasakan sikap andhap asor atau rendah hati dalam pergaulan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan bahasa krama ketika berinteraksi dengan orang yang lebih tua sebagai salah satu bentuk penghormatan yang selama ini menjadi ciri budaya Jawa. Menurutnya, bahasa dan tata krama merupakan dua unsur yang saling berkaitan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.

Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh budaya global yang membentuk pola komunikasi generasi muda, pelestarian bahasa daerah menjadi tantangan tersendiri. Bahasa Jawa krama yang selama ini menjadi bagian dari tradisi penghormatan antargenerasi dinilai perlu terus dikenalkan dan dipraktikkan agar tidak semakin ditinggalkan.

Melalui kegiatan tersebut, Zainul berharap generasi muda tidak hanya mengenal bahasa Jawa sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai-nilai kesopanan, penghormatan kepada yang lebih tua, dan identitas budaya Jawa dapat terus terjaga di tengah perubahan zaman. (kim/sof)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • TERM OF SERVICE
  • KEBIJAKAN PRIVASI
Hubungi: 031-8285518

© 2026 Biro Komunikasi, Informasi dan Media - DPW LDII Jawa Timur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BERITA
    • NASIONAL
    • SEPUTAR JATIM
    • LINTAS DAERAH
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH ORMAS LDII
    • SUSUNAN PENGURUS DPW LDII JAWA TIMUR 2025-2030
    • SUSUNAN PENGURUS WANITA LDII JAWA TIMUR
    • SUSUNAN PENGURUS PEMUDA LDII JAWA TIMUR
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI

© 2026 Biro Komunikasi, Informasi dan Media - DPW LDII Jawa Timur.