SURABAYA — Pendidikan di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) disebut memiliki sistem yang terstruktur, sistematis, dan seragam secara nasional. Gambaran tersebut dipaparkan dalam bedah buku karya Ahmad Ali MD di UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (10/5).
Ahmad Ali MD, yang juga dikenal sebagai cendekiawan muda Nahdlatul Ulama, menekankan pentingnya sikap terus belajar bagi setiap individu tanpa memandang latar belakang.
“Belajar itu bisa dari mana saja. Dengan belajar, kita akan mengetahui, dan dengan mengetahui kita bisa menghindarkan kesalahpahaman dan permusuhan,” ujarnya dalam diskusi.
Ia menjelaskan bahwa ketidaktahuan kerap menjadi akar konflik sosial. Menurut dia, hal tersebut juga terjadi dalam konteks pemahaman masyarakat terhadap LDII.
“Ketidaktahuan tentang LDII, termasuk sistem pendidikannya, bisa menjadi faktor munculnya kebencian. Karena itu, siapapun harus terus berusaha belajar,” katanya.
Ahmad Ali menuturkan, buku yang ditulisnya berupaya memberikan gambaran menyeluruh mengenai sistem pendidikan LDII. Ia menyebut, buku tersebut dapat memperkuat wawasan publik sekaligus meminimalkan potensi prasangka negatif.
Buku ini merupakan karya keduanya. Sebelumnya, ia telah menerbitkan buku bertema nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sosial.
Dalam buku terbaru tersebut, Ahmad Ali memotret keseragaman sistem pendidikan LDII di berbagai daerah di Indonesia. Ia menemukan bahwa sistem tersebut terstruktur dan sistematis, serta dikemas dalam kerangka 29 karakter luhur.
“Intinya, sistem pemahaman itu dibingkai dalam 29 karakter luhur yang diharapkan membentuk generasi LDII yang profesional,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa bukunya belum mengkaji sejauh mana lulusan pendidikan LDII benar-benar menjadi profesional dalam praktiknya. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menjawab hal tersebut.
“Yang dikaji dalam buku ini adalah bagaimana sistem pendidikan dan kurikulumnya mengarahkan peserta didik menjadi profesional. Adapun hasil akhirnya, itu perlu riset tersendiri,” kata dia.

Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, H Moch Amrodji Konawi, menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai kajian yang dilakukan penulis bersifat objektif karena dilakukan oleh pihak luar organisasi.
“Saya merasa bersyukur dan berterima kasih karena hasil riset ini dibukukan. Ini menjadi kajian yang fair karena dilakukan oleh pihak luar, sehingga apa yang ditulis merupakan gambaran yang proporsional sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Menurut dia, kehadiran buku tersebut penting untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat mengenai LDII, sekaligus meluruskan informasi yang selama ini beredar secara terbatas.
“Melalui buku ini, masyarakat bisa mengetahui secara lebih utuh bagaimana LDII. Ini berbeda dengan informasi yang hanya berdasarkan ‘katanya-katanya’,” kata dia.
Ia berharap, pemahaman yang lebih baik dapat memperkuat ukhuwah antarorganisasi kemasyarakatan Islam. Dengan saling mengenal dan memahami, kata dia, hubungan antarormas dapat terjalin lebih harmonis.
“Kalau kita bisa saling mengenal, memahami, dan bekerja sama, maka pada akhirnya bisa saling menguatkan. Perbedaan itu wajar, bahkan di internal organisasi pun ada. Yang penting adalah titik temu untuk membangun kebersamaan,” ujarnya.
Dengan demikian, ia menilai kajian mengenai pendidikan LDII tidak berhenti pada pemetaan sistem, melainkan perlu dilanjutkan pada evaluasi hasil dan kontribusinya dalam kehidupan sosial yang lebih luas. (sof/wid)











