SURABAYA — Komunitas Generus Tuli Indonesia Jabodetabek menggelar kegiatan Wisata Religi dan Silaturahim Akbar ke berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pada 1-4 Januari 2026.
Ada beberapa tempat yang mereka tuju, diantaranya Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kediri, Komunitas Generus Tuli Surabaya, Ponpes Gadingmangu Jombang, Ponpes Al Ubaidah Kertosono Nganjuk, serta PPM Graha Cendekia Sleman.
Rangkaian agenda wisata religi tersebut menjadi sarana bagi generasi tuli untuk saling menguatkan melalui pengalaman hidup yang serupa. Para peserta saling berbagi cerita, bertukar pengalaman, serta memotivasi satu sama lain agar tumbuh lebih percaya diri dan mampu berperan aktif di tengah masyarakat.
Koordinator Komunitas Generus Tuli Indonesia Jakarta, Arifah Zukhri, menuturkan bahwa hingga kini masih banyak generasi tuli yang merasa minder dan tertinggal. Oleh sebab itu, menurutnya, pendampingan mental dan spiritual menjadi kebutuhan yang sangat penting.
“Kami sering menyampaikan kepada teman-teman tuli bahwa kekurangan yang mereka miliki adalah ketetapan dari Allah. Namun hal itu bukan alasan untuk merasa jatuh secara mental. Mereka tetap bisa dan wajib melaksanakan ibadah seperti manusia lainnya, serta memiliki hak yang sama,” ujar Arifah.
Ia menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak seharusnya menjadi penghalang bagi generasi tuli untuk berkembang dan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Motivasi Arifah untuk terus bergerak dan mengabdi di komunitas tuli berawal dari pengalaman pribadi. Ia mengisahkan bahwa sekitar tahun 2002 dirinya tersentuh saat mengetahui kondisi anak-anak tunarungu di Surabaya. Pengalaman tersebut semakin menguat karena salah satu putrinya juga merupakan penyandang tuli.
“Dari situlah saya merasa terpanggil. Saya berpikir bagaimana caranya agar anak-anak tuli bisa menerima ilmu dengan baik dan menjalankan kewajiban ibadahnya seperti yang lain,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Arifah juga menegaskan pentingnya peran generasi penerus tuli agar kehadiran mereka benar-benar memberi manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Menurutnya, generasi tuli memiliki potensi besar yang perlu terus didorong dan dikembangkan.
“Anak-anak tuli ini perlu terus dimotivasi karena sebenarnya mereka memiliki potensi yang besar. Di balik kekurangannya, Allah memberikan kelebihan. Ketika kemampuan mereka digali dan didampingi, terbukti mereka mampu berkontribusi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan terhadap generasi tuli tidak cukup hanya berupa semangat, tetapi juga harus diwujudkan melalui dorongan nyata serta pendampingan yang berkelanjutan agar potensi mereka dapat berkembang secara optimal.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, Komunitas Generus Tuli Indonesia di Jakarta berencana menjadikan silaturahim sebagai program rutin yang berkesinambungan.
“Anak-anak merasa senang, merasa memiliki banyak saudara, dan tidak merasa sendirian. Ke depan, silaturahim ini akan kami programkan secara rutin agar kebersamaan dan semangat mereka terus terjaga,” pungkas Arifah.
Setibanya di Surabaya, rombongan Komunitas Generus Tuli Indonesia Jabodetabek disambut Sekretaris DPW LDII Jawa Timur Bambang Raditya Purnomo yang juga Pengurus Komunitas Tuli Surabaya, bersama Dewan Penasihat H. Sumarman dan puluhan anggota komunitas. (sof/wid)












