KEDIRI – Peran pondok pesantren sebagai basis pembangunan kesehatan masyarakat kian mendapat perhatian serius di Jawa Timur. Melalui riset Ponpes Sehat Berdaya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan pemetaan kondisi serta tata kelola kesehatan pondok pesantren, dengan Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri ditetapkan sebagai salah satu lokasi studi kasus.
Pemetaan tersebut dilaksanakan pada Senin (14/12) sebagai bagian dari upaya penguatan peran strategis pesantren dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat. Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Muhammad Yoto, menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan Peraturan Daerah Jawa Timur yang mengamanatkan pemerintah daerah untuk memfasilitasi pondok pesantren, termasuk di sektor kesehatan.
“Jawa Timur telah memiliki inovasi Kolaborasi Inisiasi Pesantren Sehat. Melalui riset ini, kami ingin mengembangkan peran pesantren agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mitra dan penggerak pembangunan kesehatan bersama pemerintah dan masyarakat,” ujar Muhammad Yoto.
Pemilihan Ponpes Wali Barokah Kediri didasarkan pada penilaian awal yang menunjukkan tata kelola kesehatan pesantren yang relatif baik, serta komitmen kuat dalam menerapkan lingkungan bersih dan sehat. Studi ini diharapkan mampu memberikan gambaran nyata praktik pengelolaan kesehatan pesantren yang dapat direplikasi oleh pesantren lain di Jawa Timur.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama BRIN, Dr. Agung Dwi Laksono, menjelaskan bahwa riset Ponpes Sehat Berdaya difokuskan pada pemetaan kondisi kesehatan pesantren secara komprehensif. Aspek yang diamati meliputi sanitasi, kondisi bangunan, serta sarana dan prasarana lingkungan dan kesehatan pesantren.
“Kami melakukan pemetaan pondok pesantren di Jawa Timur dengan mengobservasi sanitasi, bangunan, serta sarana prasarana lingkungan dan kesehatannya. Di Kediri terdapat tiga pondok pesantren yang menjadi lokasi kajian, termasuk Ponpes Wali Barokah. Dari hasil awal, kondisinya tergolong baik,” jelasnya.
Menurut Agung, keberadaan pesantren tidak hanya berdampak pada kesehatan internal warga pondok, tetapi juga memberi pengaruh positif bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pesantren diharapkan dapat menjadi mitra strategis dalam pembangunan kesehatan berbasis komunitas.
Sementara itu Pimpinan Ponpes Wali Barokah Kediri, KH Sunarto, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Dinkes Jatim dan BRIN. Ia menilai konsep pesantren sehat sejalan dengan nilai pendidikan karakter dan pembiasaan hidup bersih yang selama ini diterapkan di lingkungan pesantren.
“Kami berkomitmen membangun pesantren yang tidak hanya unggul dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga sehat secara lingkungan dan perilaku. Kesehatan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah santri, guru, dan seluruh warga pondok,” tuturnya.
Ia berharap hasil riset tersebut dapat menjadi masukan konstruktif untuk meningkatkan kualitas sarana kesehatan pesantren sekaligus memperkuat budaya hidup bersih dan sehat. Pesantren juga diharapkan mampu berkontribusi lebih luas bagi peningkatan kesehatan masyarakat di sekitarnya.
Pada tahap awal, riset Ponpes Sehat Berdaya melibatkan sekitar lima pondok pesantren dengan karakteristik berbeda, mulai dari skala kecil hingga besar. Selain Kediri, lokasi kajian mencakup wilayah Bondowoso dan Ponorogo. Hasil riset ini diharapkan terdokumentasi sebagai praktik baik (best practice) dan menjadi rujukan pengembangan pesantren sehat di Jawa Timur. (mzd/sof/wid)












