LDII JAWA TIMUR
  • BERANDA
  • BERITA
    • NASIONAL
    • SEPUTAR JATIM
    • LINTAS DAERAH
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH ORMAS LDII
    • SUSUNAN PENGURUS DPW LDII JAWA TIMUR 2025-2030
    • SUSUNAN PENGURUS WANITA LDII JAWA TIMUR
    • SUSUNAN PENGURUS PEMUDA LDII JAWA TIMUR
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BERITA
    • NASIONAL
    • SEPUTAR JATIM
    • LINTAS DAERAH
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH ORMAS LDII
    • SUSUNAN PENGURUS DPW LDII JAWA TIMUR 2025-2030
    • SUSUNAN PENGURUS WANITA LDII JAWA TIMUR
    • SUSUNAN PENGURUS PEMUDA LDII JAWA TIMUR
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
LDII JAWA TIMUR
No Result
View All Result
Home SEPUTAR PESANTREN

Ponpes Wali Barokah Siapkan Santri Alim dan Fakih untuk Hadapi Akhir Zaman

Sofyan Gani A. by Sofyan Gani A.
22 Januari 2026
in SEPUTAR PESANTREN
76 3
1
Ustadz Andika Faza menyampaikan tausiyah Jumat di Masjid Ponpes Wali Barokah Kediri mengajak santri membangun karakter alim dan fakih sebagai bekal menghadapi tantangan akhir zaman Foto Dok KIM PPWB

Ustadz Andika Faza menyampaikan tausiyah Jum’at di Masjid Ponpes Wali Barokah Kediri, mengajak santri membangun karakter alim dan fakih sebagai bekal menghadapi tantangan akhir zaman. Foto: Dok. KIM PPWB

74
SHARES
79
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

KEDIRI – Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri terus menanamkan nilai pembentukan karakter generasi muda melalui konsep trisukses generus. Dalam tausiyah Jumat, Ustadz Andika Faza, menegaskan pentingnya karakter alim dan fakih sebagai fondasi utama kehidupan santri di tengah tantangan zaman.

“Sebagian besar jamaah yang hadir adalah santri yang sedang menuntut ilmu agama. Karena itu, pembentukan karakter menjadi sangat penting sebagai bekal hidup,” ujar Ustadz Andika, Jumat (19/12).

Ia menjelaskan, santri diarahkan untuk memiliki 29 karakter luhur, dengan penekanan pada trisukses generus, yakni akhlakul karimah, alim fakih, dan mandiri. Menurutnya, ketiga karakter tersebut saling berkaitan dan menjadi pijakan utama dalam membentuk pribadi muslim yang utuh.

“Alim dan fakih itu tidak bisa dipisahkan. Alim adalah menguasai ilmunya, sedangkan fakih adalah mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Ustadz Andika menerangkan bahwa alim berarti menguasai ilmu agama, khususnya Al-Qur’an dan Hadits, baik dari sisi bacaan, pemahaman makna, penjelasan, hikmah, hingga penerapannya. Dengan ilmu itu, santri diharapkan mampu membedakan antara halal dan haram, dosa dan pahala, serta kewajiban dan larangan.

“Kalau seseorang sudah paham mana yang halal dan haram, mana yang wajib dan dilarang, berarti ia sudah memiliki dasar syariat yang benar,” tuturnya.

Sementara itu, fakih merupakan perwujudan nyata dari ilmu yang telah dipahami. Ia mencontohkan dalam persoalan akidah, seseorang yang memahami makna la ilaha illallah dapat disebut alim. Namun, sifat fakih terlihat ketika keyakinan tersebut diwujudkan dengan hanya menyembah Allah, menjauhi syirik, dan senantiasa bergantung kepada-Nya.

“Fakih itu bukan sekadar tahu, tetapi benar-benar menjalankan. Ia hanya bergantung kepada Allah dalam setiap urusan,” tegasnya.

Dalam bab ibadah, ia mencontohkan, santri yang telah mempelajari ilmu shalat belum bisa disebut fakih apabila belum melaksanakannya tepat waktu. Begitu pula dalam bab akhlak dan adab, ilmu akan sempurna ketika diwujudkan dalam sikap jujur, amanah, rukun, dan saling menghormati.

“Ilmu shalat itu akan bernilai fakih ketika shalatnya benar-benar dijaga tepat pada waktunya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ustadz Andika Faza menyampaikan bahwa orang yang memiliki karakter alim dan fakih memiliki banyak keutamaan. Di antaranya Allah SWT akan meninggikan derajatnya, memudahkan jalannya menuju surga, serta menjaganya dari pengaruh kerusakan akhir zaman.

“Orang yang fakih tidak mudah terpengaruh godaan setan, karena ia paham batasan syariat dalam setiap perbuatannya,” ujarnya.

Untuk mewujudkan karakter tersebut, santri diingatkan agar bersungguh-sungguh dalam mengaji. Mengaji, menurutnya, tidak cukup hanya mendengar atau membaca, tetapi harus diupayakan untuk benar-benar dipahami melalui pengulangan, pendalaman, pengamalan, dan menyampaikan kembali ilmu kepada orang lain.

“Sering kali kita justru lebih paham setelah mengaji berkali-kali atau mendapatkan penjelasan dari guru yang berbeda,” katanya.

Selain usaha lahiriah, ia juga mengingatkan pentingnya usaha batin dengan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan kefahaman yang benar.

“Pada hakikatnya, Allah-lah yang memberi ilmu dan kefahaman kepada hamba-Nya,” pungkasnya.

Melalui tausiyahJum’at tersebut, Ustadz Andika Faza berharap para santri mampu menjadi pribadi yang tidak hanya alim dalam penguasaan ilmu, tetapi juga fakih dalam pengamalan, sehingga dapat menjaga diri dan agama, hidup mulia di dunia, serta selamat di akhirat. (mzd/sof/wid)

Comments 1

  1. Abdul Majid says:
    5 bulan ago

    Mungkin lebih tepatnya

    untuk mengisi kehidupan akhir jaman

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • TERM OF SERVICE
  • KEBIJAKAN PRIVASI
Hubungi: 031-8285518

© 2026 Biro Komunikasi, Informasi dan Media - DPW LDII Jawa Timur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BERITA
    • NASIONAL
    • SEPUTAR JATIM
    • LINTAS DAERAH
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH ORMAS LDII
    • SUSUNAN PENGURUS DPW LDII JAWA TIMUR 2025-2030
    • SUSUNAN PENGURUS WANITA LDII JAWA TIMUR
    • SUSUNAN PENGURUS PEMUDA LDII JAWA TIMUR
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI

© 2026 Biro Komunikasi, Informasi dan Media - DPW LDII Jawa Timur.