JAKARTA — Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menegaskan bahwa gejolak geopolitik dunia, khususnya konflik di Timur Tengah, harus menjadi perhatian serius seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi kemasyarakatan keagamaan.
Dalam sambutannya pada Munas X LDII di Ballroom Minhajurrosiddin, Jakarta, Selasa (7/4/2026), Chriswanto mengatakan perang yang terjadi jauh dari Indonesia tetap membawa dampak besar terhadap kehidupan nasional, terutama pada sektor energi, pangan, ekonomi, dan stabilitas sosial.
Menurut Chriswanto, eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia menunjukkan bahwa persoalan global, meski terjadi jauh dari Indonesia, tetap membawa konsekuensi nyata bagi kehidupan nasional. Ia menilai, dampak perang tidak hanya berlangsung dalam jangka pendek, tetapi dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, energi, hingga ketahanan sosial dalam waktu panjang.
“Perang mungkin berlangsung hanya 4 sampai 5 bulan, tetapi dampaknya saya kira akan sangat lama. Ini tentu mengubah banyak hal, termasuk cara kita memandang tantangan ke depan,” ujarnya.
Karena itu, LDII menambahkan penekanan baru dalam semangat Munas X, yakni pentingnya membangun Indonesia yang berdaulat, harmonis, berkeadaban, serta berkontribusi pada perdamaian dunia. Menurut Chriswanto, sebagai salah satu komponen bangsa, LDII tidak bisa bersikap pasif terhadap perubahan global yang berimbas pada kondisi nasional.
Ia mengatakan, organisasi kemasyarakatan keagamaan perlu ikut memikirkan solusi dan berkontribusi menjaga ketahanan nasional, terutama saat Indonesia menghadapi tekanan eksternal akibat ketidakpastian dunia.
Ia menilai, ketahanan nasional tidak cukup dimaknai sebatas pertahanan militer, melainkan juga mencakup ketahanan energi, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, hingga ketahanan kebudayaan. Karena itu, ia mengajak seluruh warga LDII untuk mengambil peran nyata sesuai kapasitas masing-masing.
“Kalau bisa berhemat, lakukan penghematan. Kalau bisa berkarya, berkaryalah. Kalau bisa berkontribusi, lakukan itu agar Indonesia tetap punya daya tahan,” katanya.
Chriswanto juga menegaskan bahwa komitmen tersebut sejalan dengan tagline “LDII untuk Bangsa”, yang menurut dia harus dibuktikan melalui kontribusi konkret bagi masyarakat dan negara.
Dalam forum itu, ia menyampaikan bahwa delapan program prioritas LDII masih relevan dengan tantangan saat ini dan memiliki irisan kuat dengan agenda pembangunan nasional dalam kerangka Asta Cita. Salah satu prioritas utama, kata dia, adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM) agar bangsa Indonesia mampu mengelola kekayaan dan potensinya sendiri.

Ketua DPW LDII Jawa Timur H Moch Amrodji Konawi, yang hadir sebagai peserta Munas, menilai isu geopolitik kini tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat di daerah.
Ia menilai, pesan yang disampaikan Ketua Umum DPP LDII dalam Munas relevan dengan kebutuhan bangsa saat ini, yakni membangun ketahanan dari level masyarakat melalui penguatan karakter, kemandirian, dan solidaritas sosial.
Menurut Amrodji, organisasi kemasyarakatan seperti LDII memiliki peran penting dalam memperkuat daya tahan bangsa, terutama melalui pembinaan umat, pendidikan karakter, serta penguatan nilai kebangsaan dan keagamaan.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, masyarakat harus disiapkan agar tidak mudah goyah. Karena itu, pembinaan SDM, wawasan kebangsaan, dan penguatan moral menjadi sangat penting,” katanya.
Munas X LDII yang berlangsung pada 7–9 April 2026 menjadi forum lima tahunan untuk merumuskan arah kepengurusan dan program kerja organisasi. Di tengah dinamika global, forum itu juga menjadi momentum bagi LDII untuk menegaskan perannya dalam memperkuat ketahanan nasional dan menjaga kontribusi nyata bagi bangsa. (sof/wid)












