SURABAYA — Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Timur memperkuat pelaksanaan program Perisai Anak melalui literasi digital, penyediaan sistem informasi, kolaborasi lintas sektor, serta monitoring dan evaluasi. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan perlindungan anak dari berbagai risiko di ruang digital.
Kepala Diskominfo Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin mengatakan, edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting dalam pelaksanaan program tersebut. Karena itu, pihaknya bekerja sama dengan Wanita LDII untuk memperluas literasi digital kepada masyarakat, termasuk para ibu di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Hal itu disampaikannya dalam Seminar Wanita LDII Jawa Timur bertema “Membangun Ekosistem Perlindungan Anak di Ruang Digital sebagai Ruang yang Aman, Sehat, dan Ramah untuk Anak” di GSG Sabilurrosyidin, Gayungan, Surabaya, Minggu (25/10/2026).
“Kami sangat berterima kasih kepada LDII dan pengurus Wanita LDII yang sudah mengundang kami untuk memberikan banyak masukan, berbagi, dan belajar bersama,” ujar Sherlita.
Ia menjelaskan, masyarakat dapat mengakses informasi mengenai Perisai Anak melalui situs resmi perisaianak.jatimprov.go.id. Situs tersebut menyediakan informasi tentang edukasi, langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi persoalan di ruang digital, serta pihak yang bisa dihubungi untuk mendapatkan bantuan.
“Layanan perlindungan anak itu tentu melibatkan berbagai pihak, termasuk layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, rumah sakit, serta unit pelaksana teknis (UPT) yang menangani perlindungan perempuan dan anak di kabupaten/kota,” jelasnya.
Sherlita menegaskan, perlindungan anak di ruang digital tidak bisa dilakukan satu instansi atau organisasi saja. Diskominfo, DP3AK, organisasi masyarakat, fasilitas kesehatan, dan instansi terkait lainnya perlu menjalankan peran masing-masing secara terpadu.
“Ini tidak bisa kalau sendiri-sendiri. Wanita LDII sendiri bergerak, kami di Dinas Kominfo bergerak sendiri, DP3AK bergerak sendiri, tidak akan selesai. Ini merupakan kolaborasi bersama,” katanya.
Selain literasi dan kolaborasi, Diskominfo Jatim juga melakukan monitoring dan evaluasi untuk memahami kebutuhan serta kondisi anak dalam penggunaan teknologi digital.
Sherlita mengungkapkan, pada Juli–Agustus 2026 pihaknya melakukan survei yang melibatkan sekitar 22.000 responden. Sebanyak 11.000 di antaranya adalah anak tingkat SD, SMP, dan SMA dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
“Survei ini bisa menjadi data awal untuk memetakan kondisi penggunaan perangkat digital dan pola komunikasi anak ketika menghadapi masalah. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen anak yang disurvei telah memiliki smartphone sendiri,” papar Sherlita.
Survei itu juga menemukan bahwa 67 persen anak menyampaikan persoalan yang mereka hadapi kepada orang tua. Teman menjadi tempat bercerita berikutnya, disusul orang lain dan guru.
“Temuan ini menunjukkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak di ruang digital. Hasil survei dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam menyusun langkah perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan anak,” terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Wanita LDII Jawa Timur Emie Santoso mengatakan, seminar ini menjadi upaya memberikan penyuluhan kepada para ibu di seluruh Jawa Timur agar lebih memahami risiko yang dihadapi anak saat beraktivitas di ruang digital.
“Kami memang ingin memberikan penyuluhan atau pengetahuan kepada ibu-ibu kami di seluruh Jawa Timur tentang bahaya atau pengaruh negatif ruang digital terhadap anak-anak,” ujar Emie.
Emie menjelaskan, pihaknya semakin mantap menggelar seminar setelah mengetahui adanya program Perisai Anak dari Diskominfo Jawa Timur. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan upaya Wanita LDII meningkatkan kesadaran para ibu tentang pentingnya perlindungan anak di ruang digital.
Ia berharap Wanita LDII Jawa Timur dapat terus bersinergi dengan Diskominfo Jatim dalam menyosialisasikan program perlindungan anak kepada masyarakat. Menurut Emie, keterlibatan para ibu hingga tingkat akar rumput penting agar edukasi dan program pemerintah menjangkau keluarga secara luas.
“Kalau tidak sampai ke ibu-ibu se-Jawa Timur, program Bu Sherlita juga tidak akan berjalan. Memang ini ditujukan untuk sampai ke akar rumput,” katanya.
Karena itu, seminar ini diikuti para ibu dari berbagai daerah di Jawa Timur. Emie berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam mendampingi anak, terutama saat menggunakan perangkat digital dan mengakses media sosial.
“Dengan begitu, keluarga bisa menjadi garda terdepan dalam melindungi anak dari berbagai dampak negatif di ruang digital,” pungkasnya.












