LDII JAWA TIMUR
  • BERANDA
  • BERITA
    • NASIONAL
    • SEPUTAR JATIM
    • LINTAS DAERAH
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH ORMAS LDII
    • SUSUNAN PENGURUS DPW LDII JAWA TIMUR 2025-2030
    • SUSUNAN PENGURUS WANITA LDII JAWA TIMUR
    • SUSUNAN PENGURUS PEMUDA LDII JAWA TIMUR
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BERITA
    • NASIONAL
    • SEPUTAR JATIM
    • LINTAS DAERAH
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH ORMAS LDII
    • SUSUNAN PENGURUS DPW LDII JAWA TIMUR 2025-2030
    • SUSUNAN PENGURUS WANITA LDII JAWA TIMUR
    • SUSUNAN PENGURUS PEMUDA LDII JAWA TIMUR
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
LDII JAWA TIMUR
No Result
View All Result
Home NASIONAL

Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa yang Demokratis

Sofyan Gani A. by Sofyan Gani A.
11 Mei 2016
in NASIONAL
68 4
0
Pancasila

Pancasila

68
SHARES
72
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Di akhir tahun 2006, majalah berita TIME untuk sampulnya memilih tokoh yang tidak seperti biasanya, bukan tokoh artis, bukan pejabat negara, bukan tokoh terkenal, melainkan sampul tersebut bergambar layar komputer.

Layar komputer tersebut dicetak khusus seperti cermin, sehingga orang yang memegang majalah TIME bisa melihat wajahnya sendiri dan persis di layar itu tertulis tiga huruf, You (Anda).

Tokoh di tahun 2006 ini adalah anda semua. Hal tersebut menandakan suatu perkembangan dunia, ketika setiap orang tiba-tiba saja mempunyai kesempatan menjadi pembuat sejarahnya sendiri.

Mereka duduk di depan komputer, memegang mouse dengan satu-dua klik mereka sudah terhubung dengan orang lain dari seluruh belahan dunia. Mereka menulis di sosial media kemudian disebarkan dan setiap orang akan menjadi penentu. Akan tetapi pada saat yang sama setiap orang menjadi penentu maka akan terjadi bahaya individualisme yang begitu merajalela.

Hal ini diungkapkan pengamat sosial politik, Eep Saefulloh Fatah, pada Seminar Nasional Kembali ke Pancasila yang diselenggrakan di Mercure Grand Mirama Hotel, Surabaya, Senin (1/3/2016).

“Di zaman dulu lima anggota keluarga makan malam bisa berbincang-bincang satu dengan yang lain. Di zaman sekarang sudah berbeda, masing-masing memegang gadget dan berbincang-bincang dengan orang yang jauh. Sejarah di tangan kita, tetapi pada saat yang sama kita menjauh sesuatu yang sesengguhnya dekat dengan kita,”ujar Eep.

Dalam hal ini Eep menceritakan kisah seperti di buku Bowling Alone karya Robert D. Putnam. Dalam buku tersebut menceritakan tentang bermain Bowling sendirian yang menggambarkan dunia ini semakin maju dan teknologi semakin canggih tetapi ada suatu biaya yang sangat mahal. Ada bahaya yang tidak bisa dihindarkan yaitu hancurnya sebuah komunitas.

“Karena dulu orang Amerika bermain bowling untuk membangun komunitas atau paguyuban supaya akrab dengan tetangganya, teman kerja, supaya guyub dengan lingkungan sekitar. Sekarang bermain bowling dengan orang-orang yang sesungguhnya tidak dikenal, mungkin kenal melalui media sosial. Tidak ada lagi paguyuban sekalipun permainan bowling berlangsung,” terangnya.

Menurut Eep, dengan kemajuan teknologi membuat kita asing dengan diri kita sendiri. Sejarah memang kita yang mengendalikan tetapi pada saat yang sama biayanya sangat mahal yaitu hilangnya sebuah paguyuban.

“Maka kita harus menengok kembali ke lorong yang gelap itu, dimana kita mempunyai modal yang besar yang bernama Pancasila. Pancasila merupakan karunia yang harus disyukuri dan dijaga,” ujar Eep.

Eep menjelaskan, saat kuliah di Universitas Ohio Amerika Serikat tahun 2002, ia terhenyak apa yang diucapkan teman kuliah yang berasal dari Afrika Selatan. Mahasiswa Afrika Selatan mengaku kesulitan menemukan sebuah demokratisasi, salah satunya bahasa persatuan. “Anda beruntung punya Pancasila. Kami tidak punya, yang memandu kami hanya Mandela,” Eep menirukan ucapan teman kuliahnya.

Menurut Eep, di Indonesia siapapun pemimpinnya tidak terlalu penting karena ada Pancasila sebagai pondasi bangsa.”Terkadang kita tidak sadar bahwa sesuatu yang penting ketika ada di dekat kita, ketika dia hilang baru kita sadar, termasuk Pancasila,” tutup Eep.

Penulis: Sofyan Gani
Editor: Widi Yunani

Tags: pancasila

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • TERM OF SERVICE
  • KEBIJAKAN PRIVASI
Hubungi: 031-8285518

© 2026 Biro Komunikasi, Informasi dan Media - DPW LDII Jawa Timur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BERITA
    • NASIONAL
    • SEPUTAR JATIM
    • LINTAS DAERAH
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH ORMAS LDII
    • SUSUNAN PENGURUS DPW LDII JAWA TIMUR 2025-2030
    • SUSUNAN PENGURUS WANITA LDII JAWA TIMUR
    • SUSUNAN PENGURUS PEMUDA LDII JAWA TIMUR
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI

© 2026 Biro Komunikasi, Informasi dan Media - DPW LDII Jawa Timur.