Surabaya – Pengurus Wanita Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Timur yang dipimpin Ketua Wanita LDII Jatim, Emie Santoso, beraudiensi dengan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin. Pertemuan berlangsung di Kantor Diskominfo Jatim, Surabaya, Selasa (13/10/2026).
Audiensi ini membahas kerja sama perlindungan anak dari dampak negatif internet. Wanita LDII Jatim meminta dukungan Diskominfo untuk mengisi Seminar Wanita yang bertujuan mengedukasi ibu-ibu dan remaja putri. Seminar akan digelar Minggu, 25 Oktober 2026.
“Kegiatan ini berformat hibrid. Peserta luring berasal dari wilayah Surabaya Raya, yakni Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, dengan perwakilan pembina generasi penerus bidang bimbingan konseling (BK) dari tiap pengurus cabang. Peserta daring dari 38 provinsi mengikuti lewat mini studio yang disiapkan di masing-masing kabupaten/kota. Pesertanya ibu-ibu dan mudi-mudi (remaja putri) LDII,” ujar Emie Santoso.
Ia berharap Diskominfo mengenalkan program Perisai Anak kepada peserta, termasuk praktik penggunaannya. Program milik Diskominfo Jatim ini membantu orang tua memantau dan membatasi aktivitas digital anak, misalnya durasi penggunaan gawai, aplikasi yang diunduh, dan izin pengunduhan lewat akun orang tua.
Menurutnya, orang tua perlu melek teknologi agar tidak tertinggal dari anak. “Ibu-ibu perlu memahami cara membatasi penggunaan gawai, mengenali tanda anak mulai kecanduan internet, serta mewaspadai paparan konten tidak pantas dan judi online,” tambah Emie.
Dalam diskusi, kedua pihak juga menyoroti meningkatnya kasus yang menimpa anak dan remaja akibat paparan internet, mulai dari konten pornografi, kecanduan gim, hingga persoalan kesehatan mental. Pergaulan dan akses internet tanpa pendampingan disebut sebagai faktor yang perlu diwaspadai, bahkan di keluarga yang harmonis.
Selain materi dari Diskominfo, Wanita LDII berencana menghadirkan narasumber dari lembaga perlindungan perempuan dan anak untuk memaparkan jenis kasus yang dilaporkan serta penanganannya. Dengan begitu, para ibu diharapkan lebih terbuka wawasannya dan tidak lengah terhadap pergaulan anak.
“Biasanya pemateri kedua kami minta dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Jatim,” ujar Emie.
Sherlita menambahkan, materi perlindungan anak bisa memakai studi kasus. “Maksudnya, kasus-kasus yang dilaporkan di DP3AK itu seperti apa, lalu penanganannya seperti apa. Aslinya ibu-ibu itu bisa terbuka wawasannya, tidak terlalu percaya begitu saja pada anaknya, ternyata tahu-tahu anaknya sudah hancur seperti itu. Ibunya sampai shock,” jelasnya.
Ia berharap organisasi perempuan, seperti Wanita LDII, Muslimat, dan Aisyiyah, bisa bergerak menyuarakan perlindungan anak dan perempuan.
Kunjungan ke RS Menur
Di tengah audiensi, Sherlita mengajak para pengurus Wanita LDII Jatim yang hadir berkunjung ke RS Menur Surabaya. Di sana, ia akan menunjukkan sejumlah korban, baik korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun korban ketidakharmonisan hubungan orang tua dan anak, agar para ibu melihat langsung dampak persoalan keluarga terhadap anak.

Setibanya di RS Menur, rombongan disambut Direktur RS Menur, Vitria Dewi, beserta jajaran staf. Rombongan kemudian diajak berkeliling dari satu ruang perawatan ke ruang perawatan lain. Mereka juga berbincang dengan para pasien yang sedang menjalani rehabilitasi.
Kunjungan tersebut juga berkaitan dengan penanganan anak-anak yang kecanduan gawai. Di RS Menur, mereka mendapatkan rehabilitasi untuk memulihkan kondisi mentalnya.
“Kami targetkan 14 hari untuk perawatan pasien di RS Menur ini,” kata Vitria. Dalam kurun waktu 14 hari itu, lanjutnya, pasien ditargetkan dinyatakan sembuh.

Untuk mencapai target tersebut, RS Menur terus berbenah. “Kami tingkatkan kapasitas dokternya, pelayanannya, obat-obatannya,” tambah Vitria.
Dalam kunjungan tersebut, Emie Santoso juga mengundang Direktur RS Menur untuk hadir dalam Seminar Wanita pada 25 Oktober. “Kami upayakan mengatur jadwal,” ujar Vitria. (wid)
