GRESIK – Ketua DPP LDII, Ust. Dwi Pramono mendorong tim Falakiyah di Jawa Timur terus meningkatkan kemampuan dan kemandiriannya dalam melakukan pengamatan hilal. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Diklat Rukyatul Hilal ke-4 Lembaga Falakiyah DPW LDII Jawa Timur di Ponpes Baitul Makmur, Menganti, Gresik, Minggu (11/10/2026) pagi.
“Harapannya pengembangan tim Falakiyah di Jatim bisa menjadi inspirasi bagi DPW LDII di provinsi lain untuk memperkuat kemampuan di bidang ilmu falakiyah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kehadiran DPP LDII dalam kegiatan tersebut salah satunya untuk memantau pelaksanaan program kerja sekaligus memonitoring rencana, kerja, dan kontrol dari kesiapan tim Falakiyah LDII di Jawa Timur.
Menurutnya, Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang lebih awal mengembangkan ilmu falakiyah sekaligus membentuk tim pengamatan hilal. Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi LDII untuk mengembangkan tim serupa di daerah lain.
“Portofolio LDII di Jawa Timur, terutama dalam pengembangan ilmu falakiyah, bisa dikatakan sudah selangkah lebih maju. Jawa Timur lebih dulu mengawali pengembangan ilmu falakiyah dan pembentukan timnya,” paparnya.
Ia menambahkan, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam pengembangan tim Falakiyah LDII secara nasional. Ketika tim di Jawa Timur semakin mandiri dan memiliki kemampuan yang mapan, pengalaman tersebut bisa menjadi bekal bagi DPW LDII di provinsi lain untuk mengembangkan tim masing-masing.
Untuk meningkatkan kemampuan tim Falakiyah, Dwi Pramono menekankan pentingnya latihan rutin setiap bulan, terutama menjelang pergantian bulan dalam kalender Hijriah, “Dengan merutinkan pengamatan hilal setiap pergantian bulan, harapannya mereka bisa semakin terampil dalam menentukan posisi hilal, sehingga bisa terus berkontribusi membantu pemerintah dalam penentuan awal bulan-bulan penting dalam kalender Islam, seperti 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijah,” ungkap Ust Dwi Pramono, yang juga menjabat sebagai Anggota Departemen Pendidikan, Keagamaan, dan Dakwah DPP LDII.
Selain itu, peserta diklat juga dibekali pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi modern untuk membantu proses pengamatan. Melalui teknologi tersebut, posisi bulan berdasarkan perhitungan hisab dapat diketahui terlebih dahulu, kemudian dikonfirmasi melalui pengamatan atau rukyat di lapangan.
“Hisab itu sebagai informasi, sedangkan konfirmasinya dilakukan dengan merukyat atau mengamati hilal secara langsung di lapangan,” jelasnya.
Dwi Pramono juga mendorong tim Falakiyah LDII untuk terus menjalin kolaborasi dengan Kemenag, BMKG, serta organisasi kemasyarakatan Islam lainnya. Selain memperluas wawasan, kerja sama tersebut menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan ilmu falakiyah.
Kembangkan Kemampuan Ilmu Falakiyah
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, KH Moch Amrodji Konawi, mengatakan bahwa pengembangan Falakiyah LDII Jatim tidak hanya berfokus pada praktik rukyatul hilal, tetapi juga mencakup pembelajaran berbagai metode perhitungan dalam ilmu falakiyah.
Bahkan, LDII Jatim juga telah mengirimkan enam orang untuk mempelajari ilmu falakiyah di Rumah Falak Markaz Hisab Rukyat (Mahira) di Mojokerto beberapa waktu lalu, “Ini salah satu upaya LDIi untuk mengembangkan kapasitas sumber daya manusia di bidang ilmu Falakiyah,” ujarnya.

Beberapa materi yang dikembangkan saatbitu diantaranya hisab gerhana menggunakan metode kitab Irsyadul Murid berbasis Excel, hisab awal bulan Hijriah dengan metode Ephemeris Kemenag RI, hisab arah kiblat beserta praktik pengukurannya, hingga praktik rukyatul hilal.
“Penguasaan materi tersebut penting agar tim Falakiyah tidak hanya mampu melakukan pengamatan, tetapi juga memahami dasar perhitungan yang digunakan untuk menentukan posisi bulan dan waktu pergantian bulan Hijriah,” kata Amrodji.
Melalui Diklat Rukyatul Hilal ke-4 ini, Amrodji berharap tim Falakiyah di setiap DPD LDII kabupaten/kota dapat berlatih secara mandiri dan rutin melakukan pengamatan hilal.
“Harapannya, tim Falakiyah di masing-masing DPD LDII kabupaten/kota bisa mandiri berlatih mengamati hilal setiap bulan dan mengetahui kapan pergantian bulan dalam kalender Islam. Juga persiapan bisa dilakukan beberapa hari sebelumnya sehingga hasil pengamatan lebih maksimal,” ujarnya. (cak/wid)












