SURABAYA — Membangun generasi yang sehat dan cerdas dimulai dari rumah, salah satunya melalui kebiasaan makan yang bergizi dan seimbang. Karena itu, DPD LDII Surabaya membekali para ibu dengan pemahaman tentang food parenting sebagai bekal mendampingi tumbuh kembang anak melalui Seminar Wanita yang diikuti lebih dari 300 peserta di GSG Sabilurrosyidin, Surabaya, Minggu (19/7).
Seminar bertajuk Parenting Skill: Meneladani Pola Makan Rasulullah Guna Membangun Generasi Sehat, Cerdas, dan Berakhlakul Karimah itu diselenggarakan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPD LDII Kota Surabaya. Peserta mendapatkan materi mengenai pola makan Rasulullah SAW, gizi seimbang, serta penerapan food parenting dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Ketua DPD LDII Surabaya Khamim Tohari mengatakan seminar tersebut merupakan upaya membekali para ibu dengan pengetahuan dan keterampilan dalam membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga. Menurutnya, pembentukan generasi unggul tidak hanya ditentukan oleh pendidikan formal, tetapi juga kebiasaan yang ditanamkan orang tua sejak usia dini.
“Melalui seminar ini kami ingin memberikan bekal kepada ibu-ibu LDII Kota Surabaya dalam mendidik dan membina anak-anaknya sesuai teladan Rasulullah SAW. Dengan bekal tersebut, diharapkan lahir generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlakul karimah,” ujar Khamim.

Dosen Prodi Fisioterapi D IV Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Sofiatun, menjelaskan pola makan Rasulullah yang mengedepankan prinsip tidak berlebihan selaras dengan konsep gizi seimbang yang diterapkan saat ini. Ia mengingatkan pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, dan minyak, serta memperbanyak sayur, buah, protein, dan aktivitas fisik. Menurutnya, pemenuhan gizi perlu dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Investasi kesehatan terbaik dimulai sejak anak berada di dalam kandungan hingga usia dua tahun. Masa inilah yang menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat dan cerdas,” katanya.
Sementara itu, Psikolog dan Hypnotherapis, Karlin, mengatakan food parenting bukan sekadar mengatur menu makanan, tetapi juga membentuk kebiasaan makan yang sehat melalui keteladanan orang tua. Menurutnya, anak tidak lahir sebagai picky eater, melainkan dibentuk oleh pengalaman makan yang diciptakan di lingkungan keluarga.
“Anak tidak lahir sebagai picky eater. Orang tualah yang mengarahkan, memberi contoh, dan membangun pengalaman makan anak sejak usia dini,” ujarnya.
Karlin juga mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan makanan sebagai hadiah atau membiasakan anak makan sambil menggunakan gawai. Sebaliknya, suasana makan bersama keluarga perlu dibangun sebagai sarana menanamkan kebiasaan hidup sehat sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak.










