KEDIRI — Keberlanjutan organisasi tidak hanya ditentukan oleh regenerasi kepengurusan, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang disiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, DPD LDII Kabupaten Kediri melaksanakan konsolidasi organisasi di Pondok Pesantren Nurul Huda Al Manshurin, Kediri, Sabtu (28/6/2026). Penguatan karakter menjadi fokus utama dalam konsolidasi organisasitersebut.
Forum yang diikuti pengurus pleno dan jajaran Pimpinan Cabang (PC) itu tidak hanya menjadi agenda evaluasi program, tetapi juga menyamakan arah pembinaan generasi penerus. Sejumlah PC, di antaranya Ngasem, Mojo, dan Kras, memaparkan perkembangan kegiatan selama satu caturwulan sebagai bahan penyusunan program berikutnya.
Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Kediri, Suwandra, mengatakan kaderisasi tidak cukup dimaknai sebagai pergantian kepengurusan. Menurutnya, organisasi memerlukan generasi penerus yang memiliki kompetensi, integritas, dan karakter agar mampu menjaga kesinambungan program sekaligus menjawab tantangan zaman.
Karena itu, kata Suwandra, pembinaan generasi di lingkungan LDII dibangun melalui tiga pilar, yakni pendidikan agama, pendidikan formal, dan pendidikan karakter.
“Program pendidikan di lingkungan LDII bertumpu pada tiga pilar, yakni pendidikan agama, pendidikan formal, dan pendidikan karakter. Ketiganya harus berjalan beriringan dalam menyiapkan generasi penerus,” ujarnya.
Pada aspek karakter, LDII menerapkan Enam Thobiat Luhur yang meliputi jujur, amanah, mujhid-muzhid atau bekerja keras dan hidup bersahaja, rukun, kompak, serta mampu bekerja sama. Nilai-nilai tersebut, menurut Suwandra, dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi bagian dari perilaku setiap warga.
“Enam Thobiat Luhur merupakan kebiasaan yang harus dimiliki setiap warga dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam menjalankan kewajiban beribadah kepada Allah maupun dalam berhubungan dengan sesama manusia,” katanya.
Selain penguatan karakter, Suwandra menilai komunikasi yang baik menjadi unsur penting dalam proses kaderisasi. Budaya saling menghargai dan berbicara dengan santun dinilai dapat memperkuat kepedulian antarsesama sekaligus menciptakan lingkungan pembinaan yang kondusif.
“Rasa kasih sayang dan kepedulian kepada sesama dapat tumbuh jika komunikasi terjalin dengan baik. Karena itu, biasakan berbicara yang baik, enak didengar, serta menyejukkan hati,” ujarnya.
Bagi Suwandra, konsolidasi ini bisa beriringan dengan arah kaderisasi. Yakni membangun generasi yang memiliki karakter, kemampuan bekerja sama, dan tanggung jawab dalam menjalankan peran organisasi. (kim/sof/wid)












