JEMBER — Di tengah derasnya arus digital dan perubahan sosial yang memengaruhi pola tumbuh kembang anak, DPD LDII Kabupaten Jember menggelar Festival Anak Sholih (FAS) 2026 di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Minggu (21/6/2026). Kegiatan ini menjadi sarana evaluasi pembinaan karakter dan pendidikan keagamaan yang selama ini dijalankan di tingkat akar rumput.
Sekitar 300 peserta dari Kecamatan Tempurejo, Ambulu, Wuluhan, Balung, dan Puger mengikuti festival yang mengusung tema “Profesional Religius dengan 29 Karakter Luhur”. Para peserta merupakan perwakilan anak-anak yang selama ini mengikuti pembinaan rutin di lingkungan LDII.
Dewan Penasihat DPD LDII Kabupaten Jember, Kiai Wiyono, menilai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidak hanya terkait penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga penguatan karakter.
“Ilmu dunia harus didukung dengan pengamalan 29 Karakter Luhur. Karakter seperti jujur, disiplin, amanah, dan hormat kepada orang tua sangat penting ditanamkan sejak dini,” ujar Wiyono saat membuka kegiatan.
Festival tersebut diisi sejumlah lomba, antara lain adzan, tahfidz Al Quran, lomba cerdas cermat keagamaan, dan mewarnai. Melalui berbagai cabang lomba itu, panitia berupaya mengukur kemampuan peserta sekaligus hasil pembinaan yang dilakukan di masing-masing wilayah.

Ketua DPD LDII Kabupaten Jember Akhmad Malik Afandi mengatakan Festival Anak Sholih tidak semata-mata menjadi ajang kompetisi. Menurut dia, kegiatan tersebut digunakan untuk melihat sejauh mana pembinaan karakter dan pendidikan agama dapat diterapkan oleh peserta dalam kehidupan sehari-hari.
“Festival ini menjadi bagian dari evaluasi pembinaan yang selama ini berjalan. Yang dilihat bukan hanya kemampuan peserta dalam lomba, tetapi juga perkembangan karakter yang dibangun melalui kegiatan pembelajaran dan pengajian,” kata Malik.
Ia menambahkan, penguatan karakter sejak usia dini menjadi salah satu langkah yang diperlukan untuk menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai moral.
Selain kegiatan lomba, panitia juga menghadirkan bazaar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di area pondok pesantren. Sejumlah pelaku usaha lokal memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memasarkan produk kuliner dan kerajinan kepada peserta maupun pengunjung yang hadir.
Penyelenggara berharap Festival Anak Sholih dapat menjadi agenda berkelanjutan untuk memperkuat pendidikan karakter anak sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pembinaan generasi muda.
Dengan tantangan sosial yang semakin kompleks, pembentukan karakter sejak usia dini dinilai menjadi salah satu aspek penting yang perlu berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi akademik dan keterampilan generasi muda. (kim/sof)
