MOJOKERTO — Proses rukyatul hilal penentuan awal bulan Zulhijjah 1447 Hijriah di Pusat Observasi Bulan (POB) Masjid Agung Darussalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, tidak berhasil melihat hilal, pada Minggu (17/5). Hujan dan langit mendung yang menyelimuti wilayah tersebut sejak sore menjadi faktor utama terhambatnya pengamatan.
Kegiatan pemantauan dilakukan oleh Tim Falakiyah LDII Jawa Timur yang tergabung dengan tim falakiyah dari sejumlah organisasi Islam lainnya. Observasi dilakukan sejak menjelang matahari terbenam menggunakan teleskop dan perangkat rukyat di area POB Masjid Agung Darussalam yang berada pada ketinggian sekitar 50 meter di atas permukaan laut.
Lokasi pemantauan berada pada koordinat 7° 31’ 46,7” Lintang Selatan dan 112° 24’ 32,5” Bujur Timur.
Ketua Tim Falakiyah LDII Jawa Timur, Fajar Sidiq Rofikoh, menyampaikan bahwa secara perhitungan astronomi, posisi hilal sebenarnya telah memenuhi kriteria imkanur rukyat. Tinggi hilal saat matahari terbenam tercatat 4° 09’ 21” dengan elongasi 9° 54’ 43”.
“Secara hisab, posisi hilal sudah memenuhi kriteria imkanur rukyat. Namun karena cuaca hujan dan langit tertutup awan, hilal tidak dapat terlihat di Mojokerto,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil rukyatul hilal dari lokasi tersebut akan dilaporkan ke DPP LDII sebagai bahan laporan yang kemudian diteruskan ke Kementerian Agama RI di Jakarta untuk menjadi pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Zulhijjah 1447 H.
Proses rukyat tetap dilanjutkan hingga menjelang waktu magrib untuk memastikan kemungkinan hilal terlihat di sela awan. Sejumlah warga dan pengurus masjid juga turut menyaksikan jalannya pengamatan.
Selanjutnya, penentuan awal Zulhijah dan Idul Adha 1447 H akan mengikuti hasil sidang isbat yang digelar Kementerian Agama RI.












