LAMONGAN — Komunikasi yang buruk masih menjadi salah satu pemicu utama konflik dalam rumah tangga. Berangkat dari kondisi tersebut, PC LDII Kecamatan Babat menggelar Pengajian Sarimbit bertajuk Sehidup Sesurga di Masjid Baitul Firdaus, Babat, Lamongan, Minggu (26/7), sebagai upaya memperkuat ketahanan keluarga melalui penguatan komunikasi dan pemahaman psikologi pernikahan.
Kegiatan yang diikuti ratusan pasangan suami istri dari berbagai usia pernikahan itu menghadirkan pasangan suami istri Rio Azadi dan Sovia Sahid, yang juga merupakan pengurus DPW LDII Jawa Timur, sebagai pemateri. Keduanya membahas keharmonisan rumah tangga dari perspektif ajaran Islam dan psikologi keluarga.
Dalam pemaparannya, Rio menjelaskan pentingnya membangun komunikasi keluarga dengan meneladani Rasulullah SAW. Menurut dia, prinsip-prinsip komunikasi yang dikenal dalam teori love languages memiliki keselarasan dengan ajaran Islam yang dicontohkan melalui perilaku dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
“Konsep komunikasi dalam rumah tangga yang berkembang saat ini sejatinya telah diajarkan dalam Islam melalui keteladanan Rasulullah SAW,” kata Rio.
Rio mengatakan perbedaan karakter antara suami dan istri merupakan kodrat yang seharusnya saling melengkapi, bukan menjadi sumber pertentangan. Karena itu, pasangan perlu kembali mengingat tujuan awal pernikahan sebagai ibadah ketika menghadapi berbagai dinamika kehidupan rumah tangga.

Sementara itu, Sovia memaparkan bahwa hambatan komunikasi masih menjadi penyebab dominan persoalan rumah tangga. Berdasarkan data yang disampaikannya, sekitar 70 persen kasus yang berujung pada konsultasi perkawinan berawal dari komunikasi yang tidak berjalan efektif serta konflik yang diabaikan sejak awal pernikahan.
Ia menjelaskan perjalanan pernikahan umumnya melalui lima fase, yakni fase bulan madu, fase kekecewaan, fase kesadaran, fase perubahan, dan fase cinta sejati. Menurut Sovia, setiap fase membutuhkan kemampuan pasangan untuk saling memahami dan beradaptasi.
Sovia juga menguraikan adanya perbedaan pola komunikasi antara laki-laki dan perempuan. Perempuan, katanya, cenderung membutuhkan ruang untuk didengar, sedangkan laki-laki lebih berorientasi pada penyelesaian masalah. Perbedaan tersebut perlu dipahami agar tidak berkembang menjadi sumber kesalahpahaman.
Selain itu, peserta diperkenalkan pada konsep “tangki cinta”, yakni upaya menjaga kualitas hubungan melalui ungkapan apresiasi, waktu berkualitas, sentuhan fisik, tindakan pelayanan, serta pemberian perhatian sederhana kepada pasangan.
Ketua PC LDII Babat, Sumarlin, mengatakan keluarga yang harmonis menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kuat. Menurut dia, keharmonisan rumah tangga tidak hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga terhadap tumbuh kembang anak dan kualitas kehidupan sosial.
“Keluarga yang harmonis adalah kunci utama terbentuknya masyarakat yang kuat serta anak-anak yang bahagia,” ujar Sumarlin.
Rangkaian pengajian ditutup dengan sesi refleksi. Dalam sesi tersebut, peserta diajak mengungkapkan rasa syukur, doa, dan harapan kepada pasangan masing-masing sebagai bentuk memperbarui komitmen membangun rumah tangga yang harmonis serta berorientasi pada kehidupan dunia dan akhirat. (zoga/sof/wid)












