Rektor Universitas Brawijaya Malang Prof. Widodo mengapresiasi delapan program pengabdian yang dilaksanakan oleh LDII. Menurutnya, program-program yang dijalankan oleh LDII sejalan dengan program pemerintah, mencakup berbagai bidang seperti sosial, pangan, dan energi terbarukan.
“Saya sangat mengapresiasi delapan program pengabdian LDII untuk bangsa. Ini menunjukkan keseriusan LDII dalam membantu pemerintah melalui program-program yang jelas anti-radikalisasi, juga menjadi bukti bahwa LDII berperan aktif dalam membentuk civil society,” ujar Prof. Widodo saat menjadi pemateri pada Musyawarah Wilayah X LDII Jatim di Gedung Serba Guna Ponpes Sabilurrosyidin, Surabaya, Sabtu (30/8).
Dalam paparan materinya, Prof. Widodo menyampaikan pandangannya tentang sifat dasar manusia dan tantangan besar yang dihadapi masyarakat saat ini. Menurutnya, sifat dasar manusia dapat bersifat positif maupun negatif, tergantung dari lingkungan tempat mereka berada.
“Pada dasarnya, manusia memiliki keinginan untuk berempati, merasakan apa yang dialami orang lain, dan memiliki sifat ingin menolong. Namun, ada sisi lain dari manusia yang juga cenderung egosentris, yaitu ingin diprioritaskan,” ungkap Prof. Widodo.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa keinginan manusia untuk membangun hubungan sosial seperti silaturrahim, berkeluarga, dan mencari teman adalah bentuk dari kebutuhan untuk terhubung dengan sesama. Tetapi, di sisi lain, sifat egosentris dapat muncul, yang memicu ketegangan dalam hubungan sosial.
Prof. Widodo juga menyoroti bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi perubahan sifat dasar manusia. “Sifat dasar manusia ini bisa berubah menjadi kurang baik tergantung dari lingkungannya. Namun, saya yakin jika berada di lingkungan yang baik, seperti di LDII, inshaAllah sifat-sifat tersebut akan berkembang dengan positif,” katanya.
Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi manusia saat ini adalah dalam hal komunikasi dan informasi. Era informasi yang berkembang pesat dan sering kali terdistorsi ini menambah kesulitan dalam memahami realitas yang ada.

“Dalam era post-truth ini, apapun yang terjadi bisa dengan mudah dibingkai dan dibagikan dalam hitungan detik. Seperti demo yang terjadi di beberapa tempat, informasi yang diterima masyarakat bisa sangat berbeda dengan kenyataannya,” jelas Prof. Widodo. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya menyaring informasi dengan bijak agar dapat memperoleh kebenaran yang sesungguhnya.
Prof. Widodo juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang pergeseran sifat manusia yang semakin intoleran, yang terjadi seiring dengan pembentukan kelompok-kelompok berdasarkan pandangan atau identitas tertentu. “Manusia cenderung membentuk kelompok karena tidak mampu memahami kompleksitas masalah yang ada. Dunia ini sangat majemuk, dan untuk menyederhanakan masalah, orang cenderung membentuk grup,” ujarnya.
Meskipun demikian, dia juga menambahkan bahwa jika di setiap kelompok diajarkan nilai-nilai toleransi, maka hasilnya bisa sangat positif meski kelompok-kelompok tersebut memiliki perbedaan.
Rektor UB tersebut juga menyoroti ancaman terhadap persatuan bangsa, seperti radikalisme, intoleransi, disinformasi, dan polarisasi sosial yang semakin meningkat, khususnya di era media sosial yang penuh dengan informasi yang mudah dipahami. “Dengan begitu banyaknya informasi yang beredar, kita dituntut untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah. Jika tidak, bisa terjadi polarisasi sosial yang sangat berbahaya bagi persatuan bangsa,” tegasnya.
Untuk itu, Prof. Widodo menyarankan agar pendidikan dan pengetahuan yang inklusif dan partisipatif menjadi solusi untuk mengatasi masalah ini. “Semua kelompok harus diajak berdiskusi. Seperti yang dilakukan LDII dengan mengundang berbagai ormas untuk berdialog, ini adalah langkah yang sangat tepat,” tutupnya.