Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH. Hasan Ubaidillah, menegaskan pentingnya terus menggaungkan nilai-nilai Islam wasathiyah, atau Islam yang moderat. Hal ini disampaikannya pada forum Dialog Kebangsaan I Muswil X LDII Jatim, di Gedung Serba Guna (GSG) Sabilurrosyidin, Surabaya (30/8). Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, ormas Islam, dan tokoh lintas agama.
“MUI senantiasa menggaungkan Islam wasathiyah. Kita harus paham bahwa wasathiyah itu berada di tengah-tengah, tidak condong ke kiri maupun ke kanan. Inilah yang selalu kami tekankan di MUI sebagaimana firman Allah dalam Alquran, bahwa umat Islam dijadikan sebagai umat pertengahan (ummatan wasatha),” jelasnya.
Menurutnya, konsep wasathiyah bukan hanya ajaran, melainkan juga menjadi esensi dari Risalah Kenabian. Rasulullah SAW disebut sebagai teladan umat pertengahan, yang menjadi panutan melalui akhlak mulia dan budi pekerti luhur.
“Konsekuensinya sebagai umat Rasulullah, kita harus meneladani sifat-sifat beliau. Kuncinya adalah akhlakul karimah, dan inilah yang harus kita sampaikan secara luas. Islam Indonesia selama ini dikenal dengan nilai-nilai kesantunan dan kerahmatan. Maka cerminan Islam rahmatan lil alamin itu justru ada di Indonesia, bukan di tempat lain,” ujarnya.
Hasan Ubaidillah juga mengajak umat untuk introspeksi: apakah mayoritas umat Islam di Indonesia sudah benar-benar mencerminkan nilai-nilai Islam yang wasathiyah dan rahmatan lil alamin, terutama dalam perilaku, sopan santun, moral, dan adab keseharian, “Saya melihat kesantunan itu ada pada senyuman orang-orang LDII yang hadir di sini,” ucapnya.
Dalam konteks kebangsaan, Hasan turut menyoroti dinamika ekonomi nasional. Ia merujuk pada pidato Presiden Prabowo Subianto terkait Nota Keuangan dan RUU APBN 2026 yang memperkirakan defisit anggaran sebesar 2,5%. Kondisi ini berdampak pada turunnya Dana Bagi Hasil (DBH) ke daerah-daerah, yang kemudian mendorong pemerintah daerah untuk mencari alternatif, seperti menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Masalahnya, bahkan tanpa kenaikan pajak pun masyarakat sudah merasa berat. Ada daerah yang menaikkan pajak hingga 200–400%. Ini tentu menjadi beban tersendiri bagi rakyat,” ujar Hasan Ubaidillah yang juga menjabat Sekretaris PWNU Jatim.
Dalam situasi seperti ini, menurutnya, penerapan nilai-nilai Islam yang moderat menjadi sangat penting agar umat bisa tetap arif dan bijak dalam merespons tantangan negara.
Hasan Ubaidillah juga menyoroti fenomena sosial yang sedang menjadi perhatian publik, seperti seruan pengibaran bendera One Piece saat perayaan kemerdekaan, maraknya isu LGBT, dan tren sound horeg di kalangan anak muda.
“Ketika generasi muda lebih memilih mengibarkan bendera tokoh fiksi ketimbang merah putih, maka kita perlu bertanya: apakah nasionalisme mereka mulai luntur? Begitu juga dengan fenomena LGBT dan sound horeg yang berlebihan, apakah ini mencerminkan nilai bangsa kita?” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa para tokoh agama harus menyikapi persoalan-persoalan tersebut dengan penuh kebijaksanaan (bil hikmah), dengan cara memberikan keteladanan yang baik, menunjukkan akhlak yang mulia, serta mendidik generasi muda agar tetap berada dalam nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.
“Kita tidak bisa hanya marah atau reaktif, tapi harus memberikan contoh nyata yang bisa menjadi pegangan anak-anak muda dalam menghadapi arus budaya global yang tidak sejalan dengan jati diri bangsa dan agama,” pungkasnya.