Amrodji menegaskan delapan program pengabdian LDII harus terus dijalankan dalam program kerja (proker) ke depan. Ia juga mengingatkan seluruh program LDII di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota harus selalu sejalan dan bersinergi dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Jangan sampai ada perselisihan, karena DNA LDII tidak mengenal oposisi. Kita harus terus membersamai pemerintah dalam membangun daerah,” ujar Amrodji saat membuka kegiatan Musyawarah Wilayah X LDII Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (30/8).
Dalam sambutannya, Amrodji juga menyampaikan harapan besar agar Provinsi Jawa Timur dapat benar-benar menjadi “gerbang baru Nusantara”. Sebagaimana tema yang diusung dalam Muswil “Penguatan SDM Profesional Religius yang Berdaya Saing dan Berakhlak Mulia Menuju Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara”.
Lebih lanjut, Amrodji mengapresiasi hubungan baik yang telah terjalin antara LDII dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk dengan Gubernur Jawa Timur. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang selama ini diberikan, baik dalam kegiatan internal maupun eksternal LDII.
“Secara khusus kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur yang telah memberikan dua unit mobil untuk mendukung operasional organisasi. Ini sangat berarti bagi kami,” ucapnya.
Dalam refleksi atas masa pengabdian lima tahun terakhir, LDII Jatim menilai bahwa tanggung jawab yang telah diemban selama ini telah dijalankan dengan sebaik-baiknya, meskipun penuh tantangan dan dinamika dalam menjalankan roda organisasi.
Muswil juga dihadiri berbagai unsur, mulai dari Forkopimda, tokoh masyarakat, hingga tokoh lintas agama. Kehadiran mereka menjadi simbol kebersamaan dan kerukunan yang terus dijaga oleh LDII Jatim dalam menjaga kondusifitas wilayah.
“Ini merupakan bentuk nyata bagaimana pesan DPP LDII bisa diimplementasikan hingga ke akar rumput. Hubungan baik harus terus dijaga, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga ke tingkat RT/RW,” kata Amrodji.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan harmonisasi, tidak hanya di internal organisasi, tetapi juga dengan berbagai pihak eksternal, “Tiga prinsip kerukunan yang harus terus kita jaga adalah kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama, serta kerukunan dengan pemerintah setempat,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Amrodji menyampaikan bahwa harmoni dan toleransi antar umat beragama sangat dibutuhkan dalam menjaga keutuhan bangsa, “Dengan harmoni yang kita ciptakan bersama, setidaknya 50 persen persoalan kebangsaan sudah terselesaikan. Sisanya, kita lihat bagaimana pemerintah mengeksekusinya,” pungkasnya.