Ratusan santri Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono mendapat pembekalan tentang moderasi beragama dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk, Abdul Rahman, Senin (9/2). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan pemahaman keagamaan yang sejuk dan toleran di kalangan generasi muda.
Dalam paparannya, Abdul Rahman menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan, melainkan menempatkan ajaran agama secara proporsional di tengah kehidupan masyarakat yang beragam. Intinya, saling menghormati perbedaan tanpa harus mengorbankan prinsip masing-masing.
“Setiap orang punya hak menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Yang tidak boleh adalah memaksakan keyakinan kepada orang lain. Kalau itu terjadi, justru bisa menimbulkan gesekan,” ujarnya di hadapan para santri.
Ia menyebut, ada empat indikator utama dalam moderasi beragama. Yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi. Jika nilai-nilai tersebut tumbuh kuat, maka kehidupan beragama akan berjalan harmonis dan damai.
Menurutnya, para santri memiliki peran strategis di tengah arus globalisasi dan derasnya informasi saat ini. Generasi muda, termasuk santri, adalah calon pemimpin masa depan yang akan menentukan arah bangsa.
“Anak muda hari ini adalah pemimpin esok hari. Kalau kualitas pendidikan dan karakternya baik, tentu masa depan bangsa juga akan lebih baik,” katanya.
Abdul Rahman juga mengingatkan agar santri tidak mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar. Di era digital, kemampuan menyaring informasi menjadi hal penting agar tidak terjebak pada paham yang menyimpang atau provokatif.
Ia berharap, pembekalan ini tidak berhenti pada tataran teori, tetapi bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan pesantren maupun saat kembali ke tengah masyarakat. (kim/cak/wid).
