NGANJUK — Kebutuhan publikasi dan penyebaran informasi mendorong Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono menggelar pelatihan penulisan straight news bagi generasi muda yang tergabung dalam tim media pesantren, Sabtu (25/4/2026). Kegiatan berlangsung di Wisma Abdul Dhohir, Ponpes Al Ubaidah Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur.
Pelatihan tersebut diikuti awak media dari Ponpes Al Ubaidah Kertosono, Al Ubaidah Boarding School Kudu, dan Ponpes Milenium Alfiena Lengkong. Para peserta dibekali keterampilan dasar jurnalistik, mulai dari teknik menulis berita, menggali informasi, hingga menyajikan konten yang menarik dan mudah dipahami masyarakat.
Ketua Tim Media Pondok Al Ubaidah I, Al Ubaidah II, dan Pondok Lengkong, Havid Abdullah, mengatakan kebutuhan terhadap publikasi semakin meningkat seiring berkembangnya aktivitas dan perhatian masyarakat terhadap pesantren.
“Pondok kami semakin dikenal masyarakat dan sering dikunjungi berbagai tokoh, mulai dari birokrat, aparat hukum, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan hingga TNI-Polri. Karena itu, kegiatan yang terlaksana perlu dipublikasikan dengan baik agar masyarakat mengetahui aktivitas positif pondok pesantren,” ujarnya.
Menurut Havid, pelatihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas tim media pesantren sehingga dapat menghasilkan berita yang informatif, menarik, dan sesuai standar jurnalistik.
Ia berharap para peserta tidak hanya aktif mengikuti kegiatan pesantren, tetapi juga mampu mendokumentasikan dan menyebarluaskan aktivitas tersebut kepada masyarakat luas.
“Harapannya, peserta dapat membuat berita mengenai kegiatan di pondok pesantren dan menyajikannya dengan baik sehingga enak dibaca serta bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Dalam pelatihan itu, Ketua Departemen Komunikasi, Informasi, dan Media (KIM) DPP LDII, Ludhy Cahyana, menekankan pentingnya media resmi sebagai sarana membangun kredibilitas lembaga di tengah perkembangan media sosial.
Menurut dia, website memiliki peran strategis sebagai pusat informasi utama sebuah institusi, sedangkan media sosial berfungsi sebagai pendukung penyebaran informasi.
“Website dapat diibaratkan sebagai rumah utama, sedangkan media sosial hanya tempat singgah. Jika sebuah instansi tidak memiliki website dan hanya mengandalkan media sosial, tingkat kepercayaan publik bisa berkurang,” ujar Ludhy.
Ia juga mendorong peserta untuk terus berlatih menulis agar kemampuan jurnalistik semakin terasah. Selain itu, peserta diminta aktif membaca media nasional sebagai referensi dalam memahami standar penulisan berita.
Ludhy menilai media massa dan media sosial menjadi sarana efektif dalam menyampaikan dakwah karena mampu menjangkau masyarakat luas.
“Melalui media, pesan tentang Islam moderat dapat dipahami masyarakat secara lebih luas, termasuk oleh nonmuslim, sehingga dapat membangun pemahaman yang baik tentang Islam,” katanya.
Salah satu peserta pelatihan, Syauqi Khomsani Al Asadi, mengaku memperoleh banyak wawasan baru terkait pentingnya media resmi dalam membangun kepercayaan publik.
“Selama ini saya sering mengunggah konten di media sosial, tetapi ternyata berita di website memiliki nilai lebih dalam membangun kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Melalui pelatihan tersebut, pesantren berharap lahir generasi muda yang mampu mengembangkan media informasi berbasis pesantren sekaligus meningkatkan literasi jurnalistik di lingkungan pondok.
